Kyai dan Nyai

Waktu nulis tentang Kyai Poleng, jadi teringat akan sebutan Kyai dan Nyai. Setahu saya, dalam masyarakat Jawa, Kyai adalah sebutan untuk orang, barang maupun hewan (bergender laki-laki) yang dihormati maupun dituakan. Sementara Nyai adalah sebutan untuk yang bergender perempuan.

Kyai dan Nyai untuk sebutan orang biasanya disematkan kepada tokoh-tokoh masyarakat. Tetapi untuk orang yang sudah meninggal, yang muda pun kadang disebut Kyai maupun Nyai juga dinisannya. Sehingga tidak mengherankan jika makam di pelosok-pelosok, di nisan-nisannya tertulis kata Kyai maupun Nyai, meskipun orang yang dimakamkan disitu bukan tokoh terkenal. Tetapi pada jaman sekarang ini, sebutan Kyai ini lebih banyak diasosiasikan pada tokoh agama.

Kyai/Nyai untuk penamaan barang biasanya terkait dengan senjata perang yang dimiliki oleh orang-orang kerajaan. Misalnya tombak Kyai Pleret, yang merupakan salah satu pusaka jaman Mataram, keris Kyai Setan Kober milik adipati Jipang (Arya Penangsang) dan keris Kyai Naga Siloeman yang dipercaya merupakan milik Pangeran Diponegoro.

Selain untuk penamaan senjata, Kyai/Nyai ini dipakai juga untuk menamai alat musik, misalnya gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga milik keraton Yogyakarta. Bahkan ada juga konsep gamelan yang menggunakan nama Kyai, yaitu gamelan Kyai Kanjeng. Kyai Kanjeng adalah konsep gamelan yang memiliki tangga nada solmisasi yang belum sempurna. Pada umumnya gamelan memiliki tangga nada pentatonis (lima nada per oktaf), tetapi Gamelan Kyai Kanjeng ini merambah juga wilayah diatonis (7 nada per oktaf) meskipun tidak benar-benar diatonis. Konsep gamelan ini diciptakan oleh Novi Budianto, seorang guru kesenian di sebuah sekolah di Yogyakarta, yang juga menjadi kreator dan pimpinan kelompok musik gamelan ‘Kiai Kanjeng’.

Sementara Kyai/Nyai untuk sebutan hewan biasanya disematkan pada hewan-hewan milik para tokoh maupun milik kerajaan, misalnya kuda Kyai Gagak Rimang milik adipati Jipang (Arya Penangsang) maupun Nyai Debleng Sepuh, kerbau bule milik keraton Solo.

Selain disematkan pada orang, barang dan hewan, Kyai/Nyai ini disematkan juga pada hal-hal diluar nalar, misalnya Kyai Sapu Jagad,  sebutan untuk ‘penunggu’ gunung Merapi.

Kalau didaerah sahabat, apakah sebutan untuk orang yang dihormati/dituakan?

28 thoughts on “Kyai dan Nyai

  1. Kalau di tempat saya Kyai ya ulama, istrinya disebut Nyai, anaknya dipanggil Gus. Kalau pusaka koleksi kabupaten di pendopo saya kurang paham, soalnya saya enggak ngeh sama yang begituan. Tapi ada di sebelah selatan ibu kota kabupaten saya, namanya Mbah Pradah, sebuah bende, gong kecil, mungkin mirip kenong, atau bonang, yang pada masa lampau digunakan untuk mengumpulkan orang, mungkin semacam alarm buat ngumpulin orang. Mbah pradah ini setiap bulan Mulud dijamasi atau dimandikan kemudian airnya diperebutkan untuk ngalap berkah. Banyak sekali mitos-mitos tentang Mbah Pradah, bahkan kalau seseoang berlaku tidak sopan di dekatnya bisa kualat. Sebuah perilaku yang tidak bisa dijelaskan dengan logika dan bilangan biner, kalau menurut saya lebih ke arah kebodohan, tetapi malah dijadikan obyek wisata oleh pemkab. Saya heran sama pemkab, senengannya memelihara kebodohan, lalu diorganisir, dan dijadikan obyek wisata. Kalau rakyat kecil yang ngalap berkah air jamasan Mbah Pradah itu bodoh menurut saya ya wajar saja. Lah wong pejabatnya juga bodoh gitu. Welah..kok saya jadi nyinyir di sini? kebiasaan deh.. :p

  2. di bukik dan ranah minang pada umumnya kita memanggil inyiak pada yang dituakan dan dihormati.
    harimau juga disebut inyiak.. pemakaiannya samalah dengan kyai..

    untuk perempuan yang dituakan disebut bundo kanduang..😀

  3. secara budaya jawa, kyai dan nyai memang benar jadi julukan untuk sesuatu yang dihormati dan tidak harus manusia. pergeseran nilai itu mungkin terjadi pada masa sunan kalijaga yang menyebarkan islam dengan metode asimilasi. agar ulama dihormati masyarakat, sebutan kyai ditempelkan kepada mereka sehingga lebih besar pengaruhnya. memang efektif walaupun efeknya sekarang bikin sebagian orang yang tak tahu awal mulanya jadi salah paham. ada beberapa teman yang bukan orang jawa bilang ngawur ketika dengar di solo ada kerbau yang dikasih gelar kyai slamet…

  4. personifikasi nih Mas Hind, ‘nguwongake’ alam dan lingkunga sekitar baik biotis maupun abiotis.
    yang paling sengit sama ‘den baguse’ julukan lain dari tikus.
    Salam

    • iya bu Prih. Mungkin wujud penghargaan terhadap alam sekitar, suatu bentuk penyelarasan diri dengan alam.
      kalau sama ‘den baguse’ saya gilo bu, entah mengapa, sejak dulu selalu gilo …😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s