Kyai Poleng

Apakah sahabat pernah mendengar cerita tentang Kyai Poleng? Kalau sahabat tinggal di Klaten dan sekitarnya mungkin pernah mendengar cerita itu. Kali ini saya akan mendongeng tentang Kyai Poleng. Ada banyak versi tentang asal mula Kyai Poleng, tetapi ada satu versi yang saya sukai .. *milih versinya suka-suka pendongeng donk ya, nggak boleh protes qi.qi.qi…

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang di perintah oleh seorang Ratu dan Kyai Poleng adalah salah satu abdi dari kerajaan tersebut. Sang Ratu ini memiliki putri yang cantik. Putri ini kesengsem dengan mas Prabu Joko tak uk uk, penguasa di daerah Jimbung yang tersohor dengan kegantengannya. Karena begitu kesengsemnya, maka sang Putri, dengan ditemani beberapa pembesar kerajaan termasuk Kyai Poleng dan prajurit kerajaan, pergi untuk melamar  Prabu Joko ini. (ternyata cewek nembak cowok itu sudah ada sejak jaman bahuela ya … :D)

Tak di duga tak di nyana, ternyata Prabu Joko menolak pinangan sang Putri yang cantik menik-menik. Penolakan ini membuat sang Putri merasa harga dirinya dilecehkan. Kyai Poleng tentu saja tidak terima akan hal itu. Lalu, Kyai Poleng pun mengajak adu tanding Prabu Joko. Akhirnya, karena kalah sakti, Kyai Poleng di kutuk menjadi bulus (kura-kura). Prabu Joko kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah, dan dari dalam tanah keluar air.  Tempat itu kemudian menjadi sendang (sumber air) dan Kyai Poleng pun hidup disitu.

Sejak saat itu, Kyai Poleng menjadi penguasa gaib sendang tersebut. Karena sendangnya berada di daerah Jimbung, maka Kyai Poleng ini disebut juga bulus Jimbung. Dan karena bulusnya itu poleng-poleng (belang-belang) maka sering disebut juga Kyai Poleng (*mulai tidak konsisten, ini namanya Kyai Poleng lalu menjadi bulus, atau bulusnya Poleng lalu disebut Kyai Poleng. Tahu ah gelap … ).

Lalu apa yang membuat Kyai Poleng ini begitu melegenda? Tidak lain tidak bukan karena konon katanya, Kyai Poleng ini bisa dijadikan pesugihan. Jadi, menurut cerita dari generasi ke generasi, banyak orang yang datang ke sendang itu untuk meminta kekayaan kepada Kyai Poleng.  Mereka yang ingin menjadi kaya ini akan melakukan perjanjian gaib dengan Kyai Poleng, dengan cara melakukan ritual tertentu. Seperti halnya cerita-cerita sejenis, cara-cara yang seperti ini kan butuh pengorbanan. Konon katanya, para pelaku ini tubuhnya akan poleng-poleng. Polengnya ini mulai dari sedikit-sedikit, kemudian membesar, dan kalau sudah menyeluruh, tandanya hidup pelaku tidak akan lama lagi. Ngeri ya …

Sendang yang dipercaya sebagai markasnya Kyai Poleng itu sampai sekarang masih ada. Dulu waktu kecil, kalau pas syawalan saya sering ke Jimbung, karena ada pasar malam. Dan pasar malam itu diadakan di sekitar sendang, jadilah sendang itu semacam tempat wisata. Di tepinya ada pohon besar, yang bawahnya berongga, membentuk semacam gua gitu. Dan guanya ini masuk cukup dalam. Orang yang berkunjung tentunya penasaran donk ingin melihat Kyai Poleng itu seperti apa (meskipun seingat saya, Kyai Poleng ini tidak pernah muncul🙂 ). Dan setiap tahun masih banyak juga lho yang penasaran untuk melihat bulus di sendang tersebut.

Oleh masyarakat sekitar, sendang itu sering di jadikan tempat mandi. Tidak jarang terlihat anak-anak kecil berenang disitu. Dulu kalau pas main ke sendang, saya nggak berani tuh berenang di situ, melihat gua yang di bawah pohonnya itu rasanya serem, takut aja kalau tiba-tiba ada yang menarik masuk ke gua itu *parno.

Saking kentalnya dengan hal-hal gaib, orang jadi ekstra hati-hati. Kalau nemu barang di jalan, mereka akan curiga, jangan-jangan itu memang di pasang, sehingga kalau di ambil, maka yang mengambil itu bakalan jadi semacam tumbal gitu. Terus kalau ada orang kaya secara mendadak, bakalan dicurigai sebagai pemilik pesugihan. (Kalau sekarang mah orang kaya mendadak bakalan dicurigai hasil korupsi ya .. eh … :mrgreen:)

Ada satu kejadian yang kuingat, saat hal buruk menimpa anak temennya bapak yang usianya beberapa tahun di atasku, sebut saja namanya X. Waktu itu X masih SMP. Suatu ketika, dia bermain bola di lapangan di dekat sendang. Lapangan ini merupakan lapangan baru, berupa sawah yang baru di uruk dan berdempetan dengan sendang. Saat main bola itu X gaprakan (bertubrukan) dengan temannya, setelah itu jatuh sakit. Tak berapa lama X meninggal. Dan anehnya, orang yang gaprakan dengan X itu tidak merasa pernah gaprakan dengan X, lah trus X ini gaprakan sama siapa donk. Hal ini kemudian memunculkan spekulasi bahwa kejadian itu ada faktor gaib-gaibnya …

Waktu itu saya memang cukup sering diajak bapak ke tempat temennya itu. Meninggalnya X ini benar-benar pukulan berat bagi temennya bapak itu. Samping rumah temennya bapak itu makam, jadi X di makamkan disitu. Dan pernah sang kakek bercerita kalau malam beliau sering mendengar tangisan cucunya yang telah tiada itu. Hedew, waktu dengar itu, diri ini jadi mrinding.

Gara-gara terlalu sering mendengar cerita begituan, saya cukup parno juga kalau main ke daerah itu. Antara percaya dan tidak percaya sih. Secara saya sendiri belum pernah mengalami hal-hal aneh gitu. Paling-paling waktu kecil pernah melihat orang berjubah putih naik kuda putih di samping rumah (ala gambar-gambar pangeran Diponegoro) dengan kecepatan sangat tinggi (setelah besar baru tahu kalau ternyata kakakku juga pernah melihat hal serupa).

Hedew, kok ceritanya jadi kemana-mana … saya stop aja ah …

Apakah sahabat pernah mengalami hal-hal yang sulit di jelaskan … ?

31 thoughts on “Kyai Poleng

  1. Pernah Mas, tp kalo aku malah org yg sering liat katanya ada dua org berpakaian mirip ustadz/ bersurban putih ngikutin aku, waktu ku tanya sama nenekku sih katanya itu pengawal yg jagain🙂 wallahualam…

  2. hiiiiyyyy.. Pur suka cerita serem ternyata.. klo eMak penakut orangnya.😛
    tiap daerah punya cerita mistik masing2.
    klo di minang yang populer itu ya orang bunian dan palasik.
    tak boleh bawa bayi keluar rumah karena darahnya bisa dihisap palasik.
    parahnya, jika ada warga kampung yang dicurigai sebagai palasik.
    rasanya kok kejam banget tuduhannya.. #biasanya nuduh diam2 di belakang

    • ceritanya memang jadi berkembang ke arah itu sih mbak … soalnya penyakitnya X nggak jelas juga …
      mungkin karena pengobatannya hanya di rumah sakit lokal, jadi tenaga medisnya tidak bisa mendeteksi penyakit yang tidak umum …

  3. cerita lokal dengan pengembangan cerita oleh masing-masing penceritanya. Kadang bisa kita poles untuk media penyampaian pesan semisal dalam penyuluhan. Salam

  4. Aku baru dengar nih kisah kiai poleng. Mau jaya yg lurus aja jalannya kerja sendiri ga usah ke orang pinter, kan ada tumbalnya serem ah. Minggu lalu aku nonton 4 mata bahas manusia nikah dg mahluk halus sot jin, intinya biar ceoat kaya. Dunia makin edan deh😀.

  5. Cerita-cerita seram berbau mistis memang menyenangkan untuk diceritakan, apalagi kalau saat kumpul rame-rame karena kalau takut juga bisa rame-rame. Saya sering dengar cerita seperti itu tentunya, tapi syukurlah belum pernah mengalami….. takutlaaahhh…. hehehhe…

  6. PULAU Jawa, terdapat banyak tempat pemberi pesugihan. Makam keramat, gua angker, pohon wingit, sendang ajaib, misalnya, sering dianggap jadi ‘pemberi’ harta. Masing-masing tempat, punya ‘cara’ dan syarat rata-rata hampir sama. Pandansigegek tak jauh dari Parangkusuma Jogyakarta, kondang jadi tempat cari pesugihan. Sejak zaman dulu, tempat itu dipercaya sebagai gudang tuyul pesugihan. Bisa dipungut salah satu, tapi dengan syarat tertentu.

  7. Dalam perkembangannya, keberadaan bulus itu dihubungkan dengan kepercayaan untuk mendapatkan pesugihan dengan jalan yang tidak biasa. Saat ini dipercaya beberapa orang dapat mencari pesugihan ini dengan imbalan pada Kyai Poleng ini yang salah satu konsekuensinya adalah kulit wajah orang itu akan menjadi poleng atau belang seperti bulus yang terdapat di sendang itu. Untuk membuat nyaman suasana semedi dan mandi di sendang bagi penziarah itu kemudian ada orang yang membuat tempat peneduh dan komplek sendang diberi pagar seng. Ritual orang yang datang ini adalah bersemedi, mandi dan kemudian membuang pakaian yang dikenakannya saat itu.

  8. (*mulai tidak konsisten, ini namanya Kyai Poleng lalu menjadi bulus, atau bulusnya Poleng lalu disebut Kyai Poleng. Tahu ah gelap … ).

    Wkwkwkwkwk……piye to? Crito dewe bingung dewe😆

    Poleng itu ..err…nama gukguk kami waktu kecil. Setiaaaa banget. Pernah kami sekeluarga pindah rumah dia ketinggalan, lalu lari2 ngikutin dari belakang. Iihh, kasihan yaa. Bulunya emang poleng hitam putih😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s