Ujian

Budi mengayuh sepedanya pelan. Hari masih cukup pagi, lalu lintas belum terlalu ramai. Dengan enggan di kayuhnya sepeda tua itu pelan-pelan. Andai saja bisa melompati hari ini, tentunya akan menyenangkan, pikir Budi. Dengan pikiran yang masih melayang, Budi sampai juga di sekolahan. Dituntunnya sepedanya memasuki halaman sekolah, menuju tempat parkir. Sekolah masih cukup sepi. Budi memang suka berangkat lebih awal, karena jalanan masih sepi, udara lebih segar dan dia bisa lebih leluasa mengayuh sepedanya, tidak perlu berebut dengan sepeda motor yang sering jadi penguasa jalanan di jam-jam sibuk.

Hari ini adalah hari pertama ujian sekolah. Dan sejak bersekolah di sini, ujian berubah menjadi momok buatnya. Tetapi bukan …bukan karena ujian itu yang membuat Budi enggan ke sekolah …

“Buuud … sini …” Belum lagi Budi selesai mengunci sepedanya, suara Doni yang bertubuh gempal itu sudah memecah keheningan tempat parkir. Budi cuma bisa menghela nafas. Enggan terjadi keributan, Budi mendekati Doni dengan malas.

“Awas nanti kalau kamu pelit ya … ” kata Doni ketus sambil mengarahkan telunjuk jarinya ke dada Budi ketika Budi sudah sampai dalam jangkauan Doni.

***

Ruangan ujian begitu hening, satu jam sudah berlalu dan masing-masing anak sibuk dengan lembaran kertas yang ada di hadapannya. Tiba-tiba sebuah lipatan kertas mendarat manis di atas meja Budi. Buru-buru Budi menindih lipatan kertas itu dengan tangannya, lalu menariknya dengan gerakan yang tidak mencurigakan. Ujung matanya sigap mengamati penjaga ujian yang sedang berdiri di pintu. Aman.

Hati Budi berdebar-debar. Emosinya campur aduk antara marah, sebal, takut sekaligus kecewa. Budi merasa geram sekali dengan Doni yang selalu memaksanya untuk membagi jawaban ujian. Bukan karena Budi pelit, sama sekali bukan, tetapi karena hal itu membuat Budi gelisah, membuat Budi merasa bersalah. Rasa ini akan terus menghantuinya dalam waktu lama dan itu sangat menyiksa Budi. Sebenarnya Budi akan dengan senang hati membantu Doni semampunya, asal tidak waktu ujian. Tetapi di sisi yang lain, Budi memang merasa takut untuk tidak menuruti kemauan Doni, sang pembuat onar di sekolahan. Pernah suatu kali Budi tidak mau membagikan jawaban ke Doni, dan sepulang sekolah, bogem mentahlah yang diterimanya. Kadang-kadang Budi merasa kecewa dengan dirinya yang terlalu lemah, terlalu pengecut, terutama disaat-saat seperti ini.

Sebenarnya Budi bukan termasuk murid yang menonjol, prestasinya biasa-biasa saja, meskipun memang lebih baik dari Doni yang sebenarnya pandai tetapi malas belajar. Hanya saja, sial bagi Budi karena nomor induknya berurutan dengan nomor induk Doni, yang berarti setiap ujian mereka akan duduk berurutan. Dan lebih sial lagi bagi Budi, ketika naik kelas, mereka tetap satu kelas.

Pelan-pelan di bukanya lipatan kertas itu. Disitu tertera nomor-nomor yang menunjukkan jawaban soal mana saja yang harus diserahkan Budi. Budi gelisah, keringat dingin mengucur di dahinya. Hatinya berontak, tetapi rasa sakit akibat bogem mentah itu terus membayangi. Budi berusaha mengulur-ulur waktu, berharap bell tanda selesai segera berbunyi, sehingga dia punya alasan untuk menolak membagikan jawaban itu. Tetapi bell yang ditunggu-tunggu tak juga berbunyi, sementara Doni yang duduk di depannya terus menerus menoleh kearahnya dengan mata yang tajam.

Budi menarik nafas panjang. Dengan gemetar ia menuliskan jawaban di lipatan kertas itu. Budi kecewa dengan dirinya sendiri, Budi merasa kalah, karena telah dengan sengaja mengabaikan hati kecilnya …

***

NB: selamat ujian bagi sahabat yang sedang menempuh ujian.๐Ÿ˜€

47 thoughts on “Ujian

  1. Hai Budi, aku siap menjadi Bodyguardmu. .๐Ÿ˜›

    Selamat menjalankan ujian untuk siswa SMA dan Kuliah, semoga dilancarkan dan dimudahkan dalam mengerjakann. . .๐Ÿ™‚

  2. semoga saja tidak ada lagi anak anak yang seperti ini. Jaman dulu memang sering banget nih seperti ini. Ngeri tuh kalau dapet kertas seperti hiks… keren ceritanya deg degkannya kerasa

  3. Ini yang bikin repot. Gak mau nyontek dengan alasan takut, eh malah dimintai contekan sama teman.
    Saya juga pernah sebal seperti Budi, tapi apalah daya saya juga gak bisa marah karena kadang-kadang merasa butuh teman juga saat kesulitan jawaban hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s