[BeraniCerita #6] (belum) terlambat

Tak perlu waktu lama, Rino akhirnya sampai di rumah bergaya Jawa kuno yang cukup besar. Halamannya luas dengan beberapa pohon beringin. Tampaknya rumah ini adalah rumah turun-temurun.

Tok, tok! Rino mengetuk pintu.

Tak lama pintu dibuka. Rino terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.

Wajah gadis yang berdiri di depannya itu mengingatkannya akan seorang artis yang sedang naik daun di tipi. Kecantikan gadis ini seketika menyihir Rino, terlihatΒ  alami dalam bingkai kesederhanaan.

“Mencari siapa … ” kata gadis itu lembut, tersipu-sipu sambil menundukkan wajahnya, menghindari tatapan langsung Rino. Rino pun terkesiap, terbangun dari lamunannya.

“Eh … hhmmm … pak lurah ada?”

“Ada … mari masuk.” katanya sambil mempersilahkan Rino duduk

Rino memasuki ruangan luas yang berfungsi sebagai ruang tamu. Meja dan kursi ukir yang ada disitu telihat cukup tua. Di pojok ruangan terdapat satu set gamelan yang tertata rapi. Pandangan Rino terus mengikuti langkah gadis itu sampai ia masuk ke dalam.

“Ehh ada pak dokter.” terdengar suara renyah pak Lurah yang muncul dari dalam. Rino pun segera berdiri dan menyalami pak Lurah.

“Ada yang bisa saya bantu ?” tanya pak Lurah setelah mereka berbasa-basi sebentar. Rino pun mengutarakan maksud kunjungannya untuk meminta ijin mengadakan pemeriksaan gratis di balai desa. Sebagai dokter baru di puskesmas kecamatan, Rino memang sering bekerja sama dengan perangkat desa sekitarnya untuk mengadakan kegiatan sosial terkait kesehatan masyarakat.

Ketika sedang asyik berbincang, gadis itu muncul membawa nampan berisi minuman. Rino yang telah terkesima sejak pandangan pertama, berusaha mencuri-curi pandang.

“Kenalkan … ini anak saya, Rina” kata pak Lurah seolah memahami keinginan Rino.

“Saya Rino ” Kata Rino sambil menjabat tangan Rina. Tak lama Rina pun balik lagi ke dalam.

“Putri bapak cantik sekali.” puji Rino sambil berharap bisa mendapatkan cerita lebih lagi tentang Rina.

Pak Lurah kemudian tertawa.

“Bulan depan dia akan menikah sama Kusno, itu …, anak seberang sungai yang kini jadi tentara.”

Aaaarrrggghhhh…. tiba-tiba saja Rino seperti di sambar halilintar, dunianya menjadi gelap.

“Belum terlambat..” gumannya lirih sambil memikirkan bagaimana melumpuhkan AK 47 dengan jarum suntik dalam waktu sebulan …

***

Word: 325

68 thoughts on “[BeraniCerita #6] (belum) terlambat

  1. jangan terburu-buru Rino,
    coba deh bertamu dulu ke rumah pak camat
    anaknya lebih cantik dan masih jomblo.πŸ˜›

    ceritanya keren, pur..!

  2. Waaa.. love at first sight yah ceritanya.. hihihi..
    Tapi sebelum janur kuning melengkung, masih ada waktu kok Rino.. *loh ini nyemangatin siapa* hahaha

  3. Ceritanya udah bagus, mas. Ditambahkan sedikit logika cerita lagi.
    Sebaiknya digambarkan seperti apa perasaan si Rino yg benar2 suka ama Rina hingga memutuskan menyabotase pernikahan si Rina. Soalnya kalau cuma dari lirik2an, terus suka, masih kurang buat jadi motif membunuh.
    Cinta spt apa yg membuat Rino membabi-buta suka pada Rina sehingga membuat Rino gelap mata.
    In my opinion sih, masπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s