Romantika masa lalu

Entah mengapa, edisi pulang kemarin itu serasa edisi romatika masa lalu. Ingin mengunjungi tempat istimewa yang telah menjadi bagian dari sejarah hidup saya *jiah, bahasanya nggaya bener. Selain jalan-jalan sore dan menikmati bangunan kuno, saya juga menyempatkan diri bernostalgia dengan teman lama maupun mengunjungi kampus lama. Tapi yang akan saya ceritakan sekarang adalah nostalgia saya di tempat simbah.

Peringatan setahun meninggalnya simbah kakung (kakek) hanya terpaut beberapa hari saja dari keberangkatan saya ke Taiwan. Hiksss, jadwal mudiknya memang nggak oye๐Ÿ˜ฆ. Jadi sebelum saya berangkat, saya sempat-sempatkan untuk mengunjungi makam simbah. Entah mengapa, sejak dulu saya selalu merasakan sesuatu yang beda kalau ke tempat simbah. Saya sendiri tidak bisa menjelaskan, hanya saja kalau ke tempat simbah rasanya senang aja gitu.

Salah satu hal yang terngiang kalau mengingat kampungnya adalah perihal makanannya. Makanan di daerah simbah yang terkenal tandus itu memang agak unik. Simbah sejak kecilnya terbiasa makan tiwul, jadi kalau belum makan tiwul rasanya belum makan. Nah kalau saya pas ke tempat simbah, sering juga makan tiwul, meskipun nasi tetap menjadi pilihan pertama saya.

Selain tiwul, ada sayur yang juga cukup identik dengan daerah simbah, yang sering disebut dengan jangan lombok (sayur cabe). Sayur ini bahan dasarnya memang cabe, lalu tempe yang diiris kecil-kecil dan juga santan. Cara membuatnya cukup mudah, tumis bumbu-bumbunya, lalu masukkan cabe dan tempe lalu diaduk. Setelah itu masukkan santan secukupnya, tunggu hingga matang. selesai. Rasa sayur ini tentunya didominasi oleh rasa pedas:mrgreen: .

Selain sayuran, ada juga lauk yang unik yaitu entung (kepompong), jangkrik,ย  dan belalang. Entung yang bisa dimakan adalah entung jati (kepompong yang ada di pohon jati). kepompong ini berasal dari ulat yang sering memakan daun pohon jati. Jika sudah waktunya bermetamorfosa, ulat-ulat itu akan turun ketanah, kemudian mencari tempat bersembunyi. Ulat ini akan membungkus dirinya dengan air liurnya dan butiran tanah, lalu bertapa, berubah menjadi kepompong. Kepompong inilah yang enak di makan, bukan ulatnya qi.qi.qi… Musim berburu kepompong biasanya pas musim hujan.

Kalau musim kemarau, biasanya berburu jangkrik dan belalang kayu. Di musim kemarau, ladang-ladang kering dan tanahnya pecah-pecah sehingga dipakai untuk bersembunyi jangkrik. Dulu waktu kecil pernah juga mencari jangkrik di ladang. Pas simbah membajak ladang, kuikuti dari belakang. Biasanya waktu tanahnya dibalik, jangkriknya akan berloncatan. Sayapun sibuk mengejar jangkrik yang loncat kesana kemari. Jangkrik-jangkrik ini biasanya akan di goreng. Bumbunya cukup garam dan bawang putih. Rasanya gurih.

Sementara belalang yang sering dimakan adalah belalang kayu atau disebut juga walang kayu. Belalang kayu ini sering ditemui di pucuk-pucuk pohon jati dan akasia. Belalang kayu ini akhir-akhir ini semakin naik daun sebagai santapan kuliner. Jika sahabat berkesempatan jalan-jalan ke Gunung Kidul, maka kadang-kadang akan terlihat orang yang sedang menjajakan belalang kayu di pingggir jalan, di jalur-jalur menuju objek wisata, misalnya di daerah Semanu, Jl. Baron serta Jl. Yogya-Wonogiri. Dulu belalang ini sering dijual mentah, tetapi sekarang sudah banyak yang menjual belalang goreng, dan tersedia di toko-toko oleh-oleh.

Nah karena sedang naik daun itulah saya sempat membeli 2 toples kecil belalang untuk oleh-oleh. Sampai di Taiwan, waktu saya tawarkan ke teman-teman, mereka mikir-mikir juga untuk makan. Tetapi kemudian padaย  memberanikan diri untuk mencobanya. Ada yang bilangย  “It’s delicious. It tastes like anchovy”. Meskipun begitu, pada tidak berani makan banyak-banyak hi.hi.hi…

belalangBelalang goreng

Ya udah deh, sisanya saya pakai saja buat lauk. Saya sendiri kalau lihat bentuk belalangnya juga jadi gimana gitu kalau mau makan. Jadi beberapa kali saya buat lauk dengan sambal pecel, rasanya jadi lebih enak dari pada dimakan langsung. Kalau saya perhatikan, belalang ini ternyata dibeteti (tubuhnya dibersihkan dari kotorannya). Lalu suthangnya (kaki belakangnya yang bergerigi) dihilangkan. Dan menurut saya, yang ukurannya kecil rasanya lebih gurih. Kalau pas makan, kadang terasa gatal di lidah. Entah memang bikin gatal, atau cuma perasaan saya saja๐Ÿ˜€

???????????????????????????????siap dimakan

Wah ternyata tulisannya sudah panjang. Saya akhiri disini dulu saja. Romantika lainnya saya tuliskan di lain waktu …๐Ÿ˜€

Apakah sahabat sudah pernah makan belalang, atau jangkrik atau enthung ?๐Ÿ˜€

62 thoughts on “Romantika masa lalu

  1. keren… aku suka desamu… jangan lombok itu kegemaranku… dulu waktu main ke desa di kaki gunung kawi aku dimasakin jangan lombok dan jangan pakis.. rasanya mak nyus… surga!

  2. idem om
    aku saja kalo pulang kampung selalu menyempatkan diri untuk napak tilas tempat tempat yang pernah punya kesan di masa lalu walaupun sudah tak berbentuk lagi. sawah tempat bermain dulu sudah jadi gedung. sungai tempat mandi-mandi kini airnya keruh penuh sampah.
    bawaannya malah jadi bete, om…

  3. Kayaknya saya segenerasi dengan simbah nih, disatukan oleh tiwul dan jangan lomboknya. Kalau jangkrik bakar pernah makan Mas, saat kecil diajak Bapak ‘mancing’ jangkrik dengan tangkai daun singkong. Untuk belalang goreng pernah beli oleh-oleh Yogya, nyoba dan sedikit ngeri dengan tungkai bergeriginya. Enthung ….belum berani. Salam

  4. Belum …
    Saya belum pernah makan belalang … jangkrik maupun yang satu lagi …
    saya dengar ada juga yang dibikin peyek Belalang ,,,
    dan itu katanya gurih …๐Ÿ™‚

    salam saya Hind

  5. Waaaaa….teganyaaa…teganyaaa….
    Mbok ya bentuknya diubah gitu ya, jangan masih berbentuk walang gitu๐Ÿ˜ฆ Dulu PRT saya semasa kecil pernah bikin peyek laron๐Ÿ˜ฆ

    MasWong, itu bumbu sayur lomboknya apa aja? Kok cuma ditumis gak dideskripsikan isinya? Aku pernasaran pengen cobain. Kasih aku resepnya yaa. Serius! Makasiiiiy๐Ÿ˜€

    • resepnya bervariasi sih mbak … kurang lebih bahannya seperti ini:

      tempe di potong-potong
      cabe hijau dan cabe rawit, potong serong
      daun mlinjo muda, potong-potong
      ebi, rendam air panas sampai mengembang
      santan
      bawang merah, iris tipis
      bawang putih, iris tipis
      Lengkuas digeprak
      daun salam
      garam dan gula pasir secukup rasa
      minyak goreng untuk menumis

      Cara memasak
      bawang merah dan bawang putih ditumis sampai aromanya harum, lalu masukkan irisan cabe, aduk hingga rata.
      Lalu masukkan potongan tempe, ebi, daun salam dan lengkuas, aduk hingga rata.
      Setelah itu masukkan santan, garam dan gula, aduk-aduk hingga merata.
      Setelah santannya mendidih, masukkan daun mlinjo, aduk hingga daun mlinjonya kelihatan masak.

      *berasa jadi chef

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s