Lelaki pembawa keris

Tepuk tangan penonton Wayang Orang BlogCamp Budhoyo gemuruh. Bedjo menikmati adegan tarung antara Cakil dan Arjuna, tokoh favoritnya itu. Apalagi pemeran Cakil dan Arjuna itu memainkannya dengan sangat menjiwai, sehingga gerakan perang itupun terasa luwes. Tidak sia-sia Bedjo ngotot mengajak bapaknya menonton pagelaran Wayang Orang BlogCamp Budhoyo. Bedjo bertepuk tangan keras sekali ketika Cakil ambruk dengan luka sayatan keris di lehernya. Ketika layar di turunkan, Bedjo masih terkesima dengan adegan yang seperti duel sungguhan itu . Ingin rasanya ia bisa menikmati adegan itu lebih lama lagi.

Tiba-tiba terdengar jeritan bersahut-sahutan dari balik layar, yang membuat Bedjo kaget. Orang-orang berlarian ke belakang panggung, ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, termasuk si Bedjo. Disana didapatinya beberapa orang sudah mengerumuni tubuh Cakil yang masih tergeletak.  Darah menetes dari lehernya.

‘Hah, tadi duelnya sungguhan ya.’ pikir Bedjo

Seorang perempuan cantik tampak dengan sigap memeriksa tubuh Cakil itu, kemudian menelpon seseorang. Dari nada bicaranya, sepertinya ia seorang aparat kepolisian.

Bedjo mengalihkan pandangan ke orang-orang yang ada disitu. Para pemain Wayang Orang BlogCamp Budhoyo tampak begitu terkejut. Beberapa orang menenangkan sang Arjuna, yang tampak begitu shock, karena dialah orang yang mengarahkan keris ke leher si Cakil. Banyak penonton yang terlihat berada disitu, penasaran dengan apa yang terjadi. Wanita cantik itu kemudian membuat garis batas, supaya para penonton tidak terlalu dekat dengan Cakil yang masih tergeletak disitu. Pandangan Bedjo terhenti pada seorang laki-laki berambut panjang, yang berdiri agak jauh dari kerumunan. Wajahnya terlihat pucat dan dingin, tanpa ekspresi.

“Ada yang mengganti keris ini.” tiba-tiba seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar berkata dengan suara menggelegar. Sepertinya lelaki itu salah satu kru Wayang Orang BlogCamp Budhoyo. Lelaki itu mengamat-amati keris yang telah melukai Cakil itu. Para kru pun saling berpandangan. Perempuan cantik yang tadi memeriksa si Cakil itu kemudian berbicara dengan pria bertubuh tinggi besar itu.

Bedjo menoleh ke tempat pria berekspresi dingin itu. Ternyata orang itu sudah tidak ada di tempatnya semula. Bedjo pun menyebarkan pandangannya, tidak dilihatnya orang itu diantara kerumunan. Bedjo merasakan ada sesuatu yang aneh dengan dengan pria itu.

Tanpa menarik perhatian, Bedjo beringsut dari tempat itu. Sampai diluar bangunan gedek (dinding bambu) tempat pentas itu dilangsungkan,  Bedjo sempat melihat bayangan yang berkelebat kearah tobong. Dengan sigap Bedjo mengikuti bayangan itu. Areal bilik-bilik bambu tak permanen tempat tinggal para pemain itu cukup gelap, tetapi keriuhan di belakang panggung masih terdengar dari situ. Dalam kegelapan, Bedjo melihat seorang lelaki yang berjalan dengan terburu-buru semakin menjauhi tobong, menuju ke hutan di dekat situ. Tak mau ketinggalan jejak, Bedjo buru-buru mengikutinya sambil setengah mengendap-endap.

Sementara itu, diantara kerumunan orang, bapaknya Bedjo sedang kebingungan mencari Bedjo. Dia menyesali kebodohannya karena terlalu asyik mengikuti kejadian disitu, hingga lalai mengawasi Bedjo yang super duper aktif.

‘Wah, bisa panjang urusannya nih kalau Bedjo sampai nggak ketemu’ batin bapaknya Bedjo ketar ketir …

Tak peduli kalau bapaknya sedang galau, Bedjo terus saja mengendap-endap mengikuti lelaki misterius itu. Sesekali lelaki itu menoleh kebelakang, yang membuat Bedjo kelabakan mencari tempat bersembunyi di balik pepohonan. Fiiuuhhh, untung saja tidak ketahuan. Orang itu berjalan semakin cepat hingga membuat Bedjo mesti setengah berlari untuk bisa mengikutinya. Tak berapa lama, langkah kecil Bedjo ternyata tak mampu mengimbangi langkah orang itu. Bedjo pun kehilangan jejak. Bedjo menoleh ke sekelilingnya. Ternyata lelaki itu telah membawanya jauh masuk ke dalam hutan.

‘Sial’ guman Bedjo dalam hati.

Dia belum pernah masuk ke hutan sejauh ini. Suasana cukup gelap dan sunyi. Perasaan takut mulai menghampirinya. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk kembali saja, toh ia telah kehilangan jejak lelaki misterius itu.

Bedjo berusaha mengingat-ingat kembali jalan yang ia lalui tadi. Dia berjalan perlahan supaya tidak menimbulkan suara yang terlalu keras ketika kakinya menginjak daun-daun kering di hutan itu. Tiba-tiba desir angin terasa dingin di tengkuknya. Bedjo bergidik. Samar-samar, dia mendengar sesuatu.

Tiba-tiba, lelaki yang diikutinya tadi muncul dari balik pohon didepannya. Bedjo kaget setengah mati. Lelaki itu tersenyum bengis, tangan kanannya menghunus keris. Mata Bedjo membelalak, keris yang dipegang lelaki itu mirip dengan keris yang menggores leher Cakil. Rambut panjang lelaki itu tergerai menutupi sebagian wajahnya yang pucat dan berkeriput. Dari balik kedua rongga matanya yang dalam, terlihat sorot yang tajam dan liar. Bedjo begitu ketakutan. Dengan sekuat tenaga ia berteriak

‘Toloooooooooooooonnnnggg’

Bedjo berbalik dan berlari sekencang-kencangnya. Lelaki itu mengejarnya sambil tertawa-tawa, tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. Bedjo terus berlari kesetanan, berusaha melepaskan diri dari kejaran lelaki yang tertawa dengan keris terhunus itu.

Sial bagi Bedjo, keseimbangannya goyah, diapun jatuh terhuyung, lalu terguling-guling. Sikunya terasa perih menghantam tanah. Dan lelaki itu telah berdiri di dekatnya ketika Bedjo membalikkan badan tanpa sempat bangkit lagi. Lelaki itu menengadah keatas, mengacungkan kerisnya ke langit sambil tertawa penuh kemenangan. Tawa yang memecah keheningan hutan. Terdengar kepakan burung yang terbang ketakutan, menjauh, pergi dari tempat itu. Sejurus kemudian keris itu dengan kencang menghujam kearah Bedjo. Bedjo tak dapat mengelak lagi, skak mat. Dengan kesadaran yang tersisa, Bedjo berteriak sekuat tenaga

‘Tiiiiiiidaaaaaaaakkkkkkk …’

Tiba-tiba, hutan itu menjadi sangat terang, dan lelaki itu menghentikan laju kerisnya. Lelaki tua itu terlihat kebingungan. Wajahnya yang semula seram berubah bak wajah seorang anak yang ketakutan. Tak lama kemudian dia lari tunggang langgang. Cahaya itu semakin terang dan begitu menyilaukan mata Bedjo hingga dia tidak bisa melihat. Bedjo merasakan tubuhnya ada yang mengguncang, kemudian terdengar suara, yang mirip dengan suara ibunya,

“Djo …Djo… bangun  Djo … kamu mimpi apa sampai teriak-teriak begitu …”

***

37 thoughts on “Lelaki pembawa keris

  1. Wajah ibu Bedjo pias melihat benjolan sebesar ndog gemak di bathuk anak kesayangannya yang terantuk pinggiran dipan saat ia terguling ke lantai ……. Selamat meramaikan GA Blogcamp. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s