Tiru meniru

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca status FB seorang teman, yang sepertinya sedang jengkel karena antrian yang nggak tertib. Saya coba cari lagi statusnya, ee nggak ketemu. Tapi intinya begini : ‘Kenapa sih yang ditiru yang jelek-jelek aja, kayak konsumtif, free s** dan sejenisnya. Giliran budaya disiplin dan antri, yang bagus, malah nggak mau di tiru.’

antri nunggu bis

Saat pertama kali membacanya, saya tersenyum saja. Tapi lama-lama kok ya kepikiran, ada benarnya juga. Mengapa kebiasaan yang jelek itu lebih mudah ditiru. Seperti status teman saya itu, betapa mudahnya kita terpengaruh budaya asing, yang sering kali hanya kita lihat lewat pilem. Memang sih kalau liat pilem barat itu, kesannya hidupnya bebas, bisa sosor sana sosor sini.

Suatu kali seorang kenalan pernah bercerita bahwa gaya hidup bebas yang ditunjukkan oleh pilem-pilem itu tidak sepenuhnya benar. Yang ditunjukkan itu seringkali hanya gaya hidup sebagian masyarakatnya saja. Kalau saya bercermin juga dari sinetron-sinetron Indonesia, pernyataan temen saya itu ada benarnya juga, toh sinetron-sinetron kita itu lebih banyak hiperbolanya. Seringnya yang ditayangkan ya gaya hidup kaum jet set. Intriknya pun bagi saya seringkali terasa mengada-ada, tak membumi. Mungkin karena gaya hidup wong gede dan wong cilik itu bagai langit dan bumi, jadi kebanyakan intrik-intrik di sinetron lokal kita itu masih belum bisa kuterima dengan lapang dada ha.ha.ha.

Saya masih lebih bisa menikmati tontonan jaman dulu seperti Losmen atau Dokter Sartika (wah jadul banget ya :D) . Yang agak lebih baru ya si Doel Anak Sekolahan (meskipun cerita cinta Sarah ma si Doel ini ya masih agak-agak sulit di nalarπŸ™‚ ). Kalau untuk anak ABG, ada serial ACI (Aku Cinta Indonesia). Bagi saya, cerita-cerita di dalam pilem-pilem itu lebih bisa menyentuh rasa. Lho, ini kok malah ngebahas pilem sih. hi.hi.hi.

Balik lagi ke status temen saya tadi, mengapa ya umumnya manusia itu lebih mudah meniru yang jelek daripada yang baik? Ada pendapat?

40 thoughts on “Tiru meniru

  1. Mungkin niru yg baik nggak mudah dilakukan krn kebiasaan dan pengaruh lingkungan juga ya Hind, misalnya yang pengen datang on time ke undangan , kl sdh tiba tepat waktu tapi yg lain belum ada krn kebiasaan jam karet sama saja sulit khan ya niru yg bagus ?

  2. kadang, kita juga masih memiliki mindset bahwa budaya lain lebih maju dari budaya kita. Akhirnya, budaya sendiri kadang dilepas, tapi budaya orang lain ditiru. Apalagi dalam film yang kita tonton. Sementara kita tak melihat langsung bagaimana sih budaya merka yg sebenarnya.πŸ˜€

    • iya ya pk, meniru tanpa melihat konteksnya, akhirnya jadi salah kaprah. saya kadang berpikir bahwa negara kita itu sudah menjadi ajang pertempuran 2 budaya, yaitu budaya barat dan budaya timur tengah, sementara budaya sendiri, jadi anak tiri di negeri sendiri …

  3. namanya juga filem.. harus lebih banyak keran hyperbolanya..agar lebih terlihat kontrasnya. Kalau di kehidupan sehari hari yang jahat dan baik tidak jelas.. semua blur. Kalau filem seperti itu rumit deh nontonnya.

  4. tapi anehnyaaa.. kl org2 yang sama sedang berada di LN.. budaya yang tadinya susah diikuti, jadi kebiasaan sendiri. kayak contohnya kebiasaan ga buang sampah di Spore. dll..πŸ˜€ jadi salahnya dimana yaaa? hihihi

  5. coba aja televisi mau mengalah barang tiga bulan aja memutar tayangan “ngurupi ati”, mungkin akan berpengaruh positif pada masyarakat kita

    piye kabare mas?

  6. Saya juga mikir nih Hind

    Iya ya … kenapa yang ditiru itu yang tidak baik ?
    lalu saya pun mencoba untuk positif thinking …
    saya rasa meniru yang baik pun banyak dilakukan orang kok …
    cuma saja … saya sambung dengan statement selanjutnya … Mengapa yang disiarkan / yang ditayangkan itu yang buruk-buruk saja ya ? sehingga kesannya kita hanya meniru yang buruk …

    Salam saya

  7. karena yang jelek memang lebih mudah ditiru:mrgreen:

    btw, semua film yang disebutin di atas, saya ga tau semua kecuali Si Doel. Tapi saya tetep ga tau kalau kisah cintanya ga masuk akal hehehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s