Index vs Impact Factor

Meskipun postingan ini lebih cocok untuk mereka yang bergelut di bidang akademik, tetapi sahabat yang penasaran tetap bisa membaca kok … Semoga ulasannya tidak membosankan😀

Di dunia perguruan pencak silat tinggi di Indonesia, dikenal istilah Tri Dharma Perguruan yang meliputi :
1. Pendidikan : seperti ngajar, workshop dll
2. Penelitian dan Pengembangan : Riset, publikasi dan teman-temannya
3. Pengabdian Masyarakat: KKN, pelatihan ke masyarakat,  dll,

Kali ini saya ingin membahas tentang publikasi yang merupakan bagian dari penelitian dan pengembangan. Bagi mereka yang terjun di dunia akademik, publikasi merupakan bagian penting dari profesinya. Bahkan di banyak negara, istilah ‘Publish or Perish” sangatlah kental terasa, karena kualitas seorang pengajar salah satunya dilihat dari publikasinya. Kalau di Indonesia masih belum terlalu sih, tetapi rasanya beberapa tahun kedepan akan semakin mendapat perhatian juga, karena DIKTI (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi) juga sudah menaikkan standard evaluasi pengajar seiring diberikannya insentif. Suatu kali saya ngobrol dengan seorang teman yang bertanya tentang Index dan Impact Factor dari suatu jurnal, terkait peraturan baru DIKTI tentang publikasi.

Index jurnal pada dasarnya mirip dengan index artikel oleh google. Index jurnal merupakan database yang berisi abstrak dan citation untuk jurnal akademis. Dengan adanya index ini memungkinkan orang mencari artikel di suatu jurnal dengan lebih cepat berdasarkan subject jurnal, keyword, maupun informasi lainnya. Ada beberapa jenis index untuk jurnal, antara lain SCI (Science Citation Index), SSCI (Social Science Citation Index)), EI (Engineering Information), Scopus, ISI web science citation index dan lain sebagainya. Dan setahu saya, SCI/SSCI ini merupakan index yang paling prestigious, karena banyak jurnal-jurnal top dari publisher berkualitas masuk index ini (e.g. IEEE, ScienceDirect, Springer, ACM, Taylor & Francis, dll ). Untuk jurnal baru, agak sulit untuk bisa masuk index ini. Kecuali jurnalnya buatan publisher besar ini, karena meski baru, yg ngurusin kan udah tahu seluk beluk mengindek, jadi biasanya beberapa tahun saja sudah masuk index. Dan seringnya, jurnal yang masuk SCI/SSCI index juga akan terindex di sistem index lainnya😀

Sedangkan Impact Factor (IF)  adalah suatu mekanisme untuk menghitung rata-rata sebuah artikel di suatu jurnal di cite di artikel lainnya. IF ini dihitung tahunan dan lima tahunan. Secara teori, semakin tinggi IF nya berarti kualitasnya semakin bagus, karena artikelnya banyak dipakai sebagai referensi di artikel lainnya. Artikel yang fundamental dan orisinil bisa di cite ribuan kali. Dan variasi IF ini untuk tiap bidang tidak sama. Misalnya untuk bidang electronic dan computing, IF 3 itu sudah tinggi, tetapi di bidang lain, IFnya bisa mencapai 40an untuk di bilang tinggi.

Bagi seorang akademisi, bisa mempublikasikan artikel di jurnal dengan index serta IF bagus merupakan suatu kebanggaan, karena artikel-artikel di jurnal itu seringkali merupakan pioner di bidangnya. Banyak berisi breakthrough yang sangat inovatif. Dan artikel-artikel itu dijadikan acuan mutahir bagi pengembangan ilmu di bidangnya masing-masing.

Untuk bisa menulis sebuah artikel bisa diperlukan waktu penelitian yang sangat panjang,  kadang periodenya bisa tahunan. Belum lagi proses untuk bisa dipublish di jurnal itu juga sulit. Mulai dari submit, revisi, accepted hingga publish bisa memakan waktu lebih dari 2 tahun. Karena itulah memasukkan artikel di jurnal ini bukanlah sesuatu yang mudah.😀

Salah satu kendala utama bagi peneliti di Indonesia adalah keterbatasan akses jurnal. Tanpa mengerti perkembangan terbaru di bidangnya, seringkali ide-ide yang terlontar sudah dikerjakan oleh orang lain jauh-jauh hari. Jurnal-jurnal bagus ini umumnya memang berbayar, dan sangat mahal.  Untuk menulis sebuah artikel dibutuhkan banyak referensi, setidaknya 20 referensi, dan sebaiknya referensinya memakai artikel yang terbit dalam waktu 5 tahun terakhir, kecuali untuk artikel yang mendasar, dari jaman bahuela pun masih bisa di pakai untuk literature. Untuk artikel review, referensinya bisa mencapai ratusan (saya pernah baca artikel review yang referensinya sekitar 300an, manteb juga penulisnya).

Sekian dulu. lain kali di sambung lagi.

48 thoughts on “Index vs Impact Factor

  1. saya pernah baca dan itu salah ukuran keberhasilan seorang guru kalau di luar negeri.. Makanya beberapa kampus di luar banyak dosen yang tetap melakukan penelitian.. jadi penasaran nih setelah membaca ini, habis lupa detailnya..

  2. Kalau tidak salah, untuk jurnal ilmiah sendiri sudah ditetapkan sebagai keharusan bagi mahasiswa-mahasiswa lulusan terbaru. Saya tidak kena pada waktu itu, karena saya lulus awal tahun 2012.

  3. Wah… baru tahu ada seperti ini.
    Saya ada pertanyaan nih, penilaian oleh DIKTI itu juga termasuk untuk guru/dosen di swasta atau tidak?

    Mengenai masalah jurnal-jurnal berbayar. Melihat prosesnya yang memang cukup berat itu, saya rasa wajar jika berbayar. Tapi memang harganya suka mahal banget. Kesulitan juga akhirnya ingin membuat jurnal itu sendiri kan. Jadi ingat saat ingin membuat skripsi dulu. Sudah mencari buku di perpustakaan susah (karena topik yang saya ambil memang masih baru saat itu), pas browsing jurnal online… tidak ada yang bisa diakses.

    • setahu saya, kalau jabatan fungsional (misal untuk dapat gelar profesor) semua di tangani oleh DIKTI, baik untuk yg PNS maupun dosen swasta. Tapi kalau kedudukan (misal dekan, atau kajur atau rektor), di tangani oleh instansinya masing-masing.
      Memang akses jurnal berkualitas itu masih menjadi salah satu kendala utama bagi peneliti di Indonesia. Harganya yg sangat mahal membuat tidak banyak institusi di Indonesia yang mampu berlangganan

      • mungkin untuk hal akses jurnal ini, ada baiknya DIKTI atau siapalah dari Pemerintah lebih memperhatikan ya. Mulai menyediakan akses yang lebih mudah.

  4. yupz, betul. amat sangat susah sekali membuat pjurnal/penelitian/artikel yg di publish di jurnal resmi internasional……
    Dosen2ku dulu yang bilang. dan aku aja yang jadi mahasiswanya merasa bangga jika merujuk ke refernsi jurnal internaional salah satu dosen….

  5. duh kenapa saya berakhir di rumah tangga dan bukan dalam keilmuwan begini kali ya Mas. Menulis satu pokok bahasan saja butuh 300 refrensi. Bisa mati berdiri saya hahaha…

    • hi.hi.hi… kalau yg pake 300 referensi itu memang artikel review bu, jadi memang harus banyak, biar bisa melihat ‘big picture’ dari permasalahannya … kalau yang artikel research, di bawah 50an kok …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s