Pulang

Sejak tadi Murni hanya merubah-rubah posisi berbaringnya, sebentar miring ke kiri, sebentar kemudian miring ke kanan. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian mengepak barang-barangnya, tetapi matanya tak bisa terpejam. Meski sudah menerapkan jurus menghitung ayam, yang dulu saat kecil selalu berhasil membuatnya tertidur, tetapi malam ini jurus itu sama sekali tak bekerja. Otaknya justru semakin terjaga. Bibirnya pun makin capek merapal jurus itu. Akhirnya, hitungan ayampun terhenti di angka dua puluh tiga ribu empat ratus lima puluh enam. Murni lalu bangun dan duduk di atas ranjang, bersandar di dinding kamar yang tak seberapa luas itu. Disudut kamar, tergeletak dua buah koper besar, dimana barang-barangnya sudah tertata rapi didalamnya.

Waktu cepat sekali berlalu, tiga tahun sudah Murni bekerja di negeri ini. Selama itu pula, hampir tiap pagi Murni mengajak engkong jalan-jalan di taman. Ketika matahari mulai tinggi, didorongnya kursi roda engkong untuk balik kerumah. Kerjaan berlanjut dengan membantu ai, anaknya engkong, yang membuka warung makan di lantai satu rumah mereka. Hari Minggu adalah hari istimewa, karena Murni mendapat jatah libur di hari tersebut. Warung makan ai tutup, jadi ai bisa mengurus sendiri si engkong, sementara Murni, dia akan memanfaatkan hari itu untuk berkumpul dengan rekan-rekan seprofesi. Besok adalah batas terakhir Murni bisa tinggal di negeri ini, sehingga dia harus meninggalkan negeri, yang walaupun bukan negeri impian, tetapi telah menerimanya dengan tangan terbuka.

menemani engkongIlustrasi

Di satu sisi, Murni senang membayangkan akan bertemu dengan kedua orangtuanya dan juga Gendis, anak semata wayangnya, yang dengan berat hati ditinggalkannya bersama kedua orangtuanya. Ada saat-saat dimana Murni tak kuasa menahan rindunya kepada Gendis, gadis kecil yang lucu, sang penyemangat hidup. Apalagi jika ditelepon Gendis menanyakan kapan Murni pulang, hati Murni serasa disayat-sayat, dan Murni hanya bisa sesenggukan di pojok kamar yang sempit ini.

Tetapi disisi lain, pulang berarti bertemu dengan Marno, lelaki yang dulu begitu dicintainya, tetapi yang juga telah menggoreskan banyak luka. Bukankah Murni nekad ke negeri ini, salah satunya juga karena Marno, yang dari hari ke hari kian sulit dimengerti oleh Murni. Marno yang dulu lembut berubah menjadi begitu kasar, mudah meledak emosinya serta ringan tangan. Betapa seringnya Marno pulang subuh dengan sempoyongan dan mulut bau alkohol. Belum lagi kata-kata menyakitkan, yang hingga kini masih meninggalkan luka basah di hati Murni. Tetapi bagaimanapun dia adalah bapaknya Gendis.

Murni menghela nafas panjang. Diraihnya handphone yang tergeletak di sampingnya, lalu ditulisnya sebuah pesan singkat. Murni diselimuti perasaan ragu. Handphone itu diletakkannya, lalu diambilnya lagi, dibacanya pesan yang telah ditulisnya, lalu diletakkannya lagi. Begitu dilakukannya berkali-kali. Hingga akhirnya, sambil menghembuskan nafas panjang serta memejamkan mata, dipencetnya tombol kirim.

Tak berapa lama,  handphonenya bergetar.

“… mengapa belum tidur?” terdengar suara lembut dari seberang ketika Murni menerima telepon itu. Murni hanya menghela nafas. Hening cukup lama.

“nggak bisa tidur?”

“He-em.” Hening

“Aku kangen mas …”

Sejujurnya Murni merasa gelisah, ada perasaan bersalah tetapi juga rasa nikmat. Murni tidak memungkiri bahwa dia merasa nyaman berada disamping lelaki, yang dikenalnya di taman dekat stasiun saat berkumpul bersama rekan-rekannya itu. Mungkin karena mereka sesama perantau, mungkin juga karena sama-sama kesepian, entahlah. Yang jelas Murni bisa dengan mudah mengungkapkan segala kegelisahan, kegetiran dan kekhawatirannya kepada lelaki itu. Memang lelaki itu tak banyak bicara, tetapi selalu menyediakan bahunya sebagai tempat sandaran Murni dikala resah. Dan malam ini, ingin sekali Murni menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu serta merasakan belaiannya meski hanya sebentar. Karena esok, ah, Murni tak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Jangan berakhir aku tak ingin berakhir
Satu jam saja kuingin diam berdua
Mengenang yang pernah ada

Jangan berakhir karena esok takkan lagi
Satu jam saja hingga kurasa bahagia
Mengakhiri segalanya

Fajar mulai merekah. Murni mencoba menata kembali separuh hati yang tersisa, karena bagaimanapun dia harus pulang.

****

* lagi-lagi cerita geje menjelang akhir minggu …😀

61 thoughts on “Pulang

  1. tambah dramatisin lagi marnonya sadar ternyata sangatlah rugi ditinggal murni

    si marno kembali pada watak aslinya, lembut. dan perubahan sikap marno membuat murni bertambah galau sangat dilematis …

  2. baguuus…
    usul dikit, itu kata2 sebelum lirik satu jam saja-nya dihilangin aja. Jd gk ush ditulis ‘dalam hati Marni bernyanyi’, biar terkesan lagu itu sbg backsound suasana….. Hehe….gaya sok editor ya gw :p

  3. wewewew kalau hari menjelang minggu ini enaknya pulang yah apalagi kalau agak deket tapi kalau luar jawa masih belum bisa kalau masih luar kota ane sempetin juga pulang mas

  4. Salam senyum dari saya
    terimakasih banyak atas tulisannya, semoga bermanfaat untuk kita smua yang membacanya, dan menambah pengetahuan kita semua, sekilahnya bisa saling silaturahmi, silahkan kunjung ke blog saya. terimakasih

  5. wah.. tulisan anda sangat baik dan menambah pengetahuan dan informasi untuk saya, semoga bermanfaat bagi para pembaca yang lainnya dan menambah wawasan. salam dari saya, terimakasih yah
    salam kenal yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s