Cinta tak harus memiliki

*peringatan pemerintah , ini tulisan lebay b1n 4l4y. 😀

Saat awal-awal berkenalan, aku langsung merasakan ada sesuatu yang berbeda dengannya. Aku masih ingat yang mengenalkanku dengannya adalah pak Siswanto, seorang guru muda yang sepertinya baru lulus kuliah. Waktu itu aku masih kelas 1 SMP. Meski pak Sis masih muda, tetapi gayanya cool, calm and confidence *kayak iklan aja.  Selain itu pembawaannya juga santai, nggak kereng-kereng layaknya guru yang sealirannya. Mungkin karena itulah aku begitu menikmati ketika berkenalan dan kemudian bergaul dengan apa yang diperkenalkan pak Sis.

Salah satu hal yang berkesan ketika pak Siswanto memperkenalkannya kepada kami adalah saat menjelaskan tentang gerak dan percepatan. Pak Siswanto menggunakan ilustrasi orang naik sepeda. Entah bagaimana, kemudian pk Sis malah menggambar orang membonceng di dalangan sepeda. Pak Siswanto tidak lama memperkenalkannya kepada kami, hanya 1 semester. Setelah itu, guru Fisika kami itu pindah sekolah.

Perkenalanku dengannya lewat pk Siswanto itu telah menanamkan benih-benih cinta yang cukup dalam *jiaaahhh, hooeek. Sehingga meskipun berganti-ganti guru, aku masih menyukainya. Padahal guru-guru Fisikaku setelahnya banyak yang sangar. Meskipun begitu, aku tetap mencintainya. Kalau sudah cinta, pastinya ingin selalu bersama. Itu juga yang terjadi, aku banyak menghabiskan waktu bersamanya. Aku banyak berhayal bersamanya, membangun mimpi-mimpi bersama *tsaahhh. Dan memang nilaiku untuk pelajaran ini seringya lebih baik dibanding mata pelajaran lain seperti Akutansi (*pelajaran ini sering jadi momok sejak SMP😦 ) atau PPKn atau Bahasa atau Sosiologi.

Setelah sekian lama bersama, pelan-pelan aku menyadari bahwa mimpi-mimpiku untuk bersamanya terus sangatlah sulit untuk diwujudkan. Layaknya orang pacaran, nggak cuma butuh cinta, tetapi juga kadang perlu nonton bareng, makan bareng dan bareng-bareng lainnya, yang tentunya butuh modal. Begitu juga diriku dengan dirinya *haiissshh. Meskipun aku mencintainya, tetapi hal itu tidak diimbangi dengan kemampuan finansial matematika yang memadai. Padahal matematika kan alat komunikasi dengannya. Alhasil, akupun dihadapkan pada pilihan sulit saat menemui jalan bercabang ketika lulus SMA, mau menekuni (mengambil jurusan) Fisika murni dengan konsekuensi terpontal-pontal karena tidak fasih matematika, atau pindah kelain body hati dengan memilih jurusan lain. Saat memilih jurusan itu benar-benar bingung antara keinginan dan realita *didramatisir poollll.

Setelah mengingat dan menimbang akhirnya memutuskan untuk pindah ke lain hati. Karena UMPTN bisa memilih 2 progdi, jadi pilihan pertama aku berikan ke Fisika Teknik, pilihan kedua Fisika MIPA. *Tetap aja nggak jauh-jauh ya. Karena di terima di pilihan pertama, jadilah meskipun sudah pindah ke lain hati, pindahnya bisa pelan-pelan. Saat kuliah, aku masih ingat dibela-belain ambil mata kuliah FIFA (Fisika Inti Fisika Atom), yang notabene itu mata kuliah untuk progdi Nuklir, demi melepaskan rasa rindu yang menggebu-gebu *hhhm, kalau rindu itu bener menggebu-gebu nggak sih😀.

Selama beberapa tahun belajar menggeser hati, dapat kerjanya juga nggak pas dengan background. Hhhm, sebenarnya waktu itu ada tawaran yang lumayan cocok dengan background kuliah sih, jadi engineer di perkebunan sawit gitu (di bagian instrumentasi pabrik pengolahan kelapa sawit). Tapi karena pada saat yang sama di terima kerja di dekat-dekat rumah, akhirnya pilih yang dekat rumah saja. Meskipun gajinya nggak sampai setengahnya yang di pabrik, tapi lebih cuucok dengan minat-ku.  Sementara bidang yang kugeluti sekarang, hhhmmm cukup jauh dari cintaku yang dulu, tetapi sudah bisa menikmatinya. *tanda-tandanya sih menemukan cinta baru😀

Cinta memang tidak selamanya memiliki. Begitulah salah satu kisah cintaku yang berakhir dengan … hmm dengan apa ya, dengan gembira lah yao😀. Kadang kalau kangen ya masih suka melihat-lihat perkembangan dirinya, tetapi jelas udah nggak paham lagi tentang persamaan Schrödinger atau formula Bohr *asli ini pencitraan doank, wong dari dulu juga nggak paham. Paling-paling ngintipnya juga dengan ngutip kuote-nya mbah Einstein macam :

“I never teach my pupils; I only attempt to provide the conditions in which they can learn.”

atau

“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.”

Karena katanya apapun yang dipaksakan tidak pernah jadi keren jadi saya mohon maaf jika tulisan kali ini terasa dipaksakan dan tidak keren. *emang sejak kapan tulisanku keren ha.ha.ha.

Apakah sahabat pernah memiliki kisah unik tentang mata pelajaran?

Selamat persiapan berakhir pekan …

62 thoughts on “Cinta tak harus memiliki

  1. pertamax kayaknya neh….merawanin duluan neh haha
    saya justruk kebalik, lebih suka ilmu sosial ketimbang eksak. Waktu SMA nilai hitung menghitung termasuk paling bagus diantara teman setongkrongan, trus ketika ada pembagian penjurusan kelas, saya ditempatkan di kelas IPA. Ajaran baru telah dimulai, mestinya masuk kelas IPA, tapi saya malah memilih nongkrong ke kelas IPS….
    Betul bang, Memang cinta tak harus memiliki hehehe

  2. I looove maths. Kalo saya justru paling seneng matematika dan paling serem sama fisika.
    Guru fisikaku dulu ga ada yang sekeren Pak Sis Mas.. Yang keren justru guru matematika..😀

    • cinta tinggal cinta mbak, wong nggak disertai kemampuan. sekarang sih sudah menemukan cinta baru *tsiaaahhh …
      bisa sekolah dengan beasiswa ya dengan bantuan mbah gugle, apply, diterima, berangkat deh …😀

  3. Aku paling gak bisa Fisika…. Hiks!
    Padahal asline aku suka, tapi entah, susah banget ngerti pelajarannya.
    Nilai Ebtanas SMA paling jelek di Fisika.
    Padahal kalau pinter Fisika, rasanya indah banget memahami dunia… #lebay😛

    • memang dengan memahami FIsika, dunia terasa lebih mempesona. *tsaahhh
      kalau aku paling sulit memahami itu Kimia, terutama persamaan reaksi, aturannya kok sepertinya sulit di generalisir gitu😀

  4. pernah.😀
    Guru Fisikaku waktu SMA juga sangat berkesan. hampir mirip ceritanya, dia cuman mengajar beberapa bulan juga pindah. aku sll ingat beliau, dia mengajar layaknya teman, tidak terlalu menjaga jarak/membatasi antara murid dengan guru. terkadang jika ada bangku yang kosong dia ikut duduk bersama, bertanya gimana tentang pelajarannya, bisa dimengerti nggak gitu.
    tapi yang beda, nggak ada cinta2an waktu itu, sebab pacarku waktu itu lain sekolah. waktu SMP satu sekolah, waktu SMA beda sekolah. hihi…😆

  5. tapi biasanya kalau cinta beneran itu tidak akan kemana mana loh… dia pasti akan selalu disana sampai kapan juga untuk menanti kita kembali… percaya deh…. saya juga suka fisika, tapi ternyata tidak cinta beneran…

  6. Hahaahahah. .
    Cinta tak harus memiliki, itu memang. . .
    Aku dari dulu gak pernah suka sama yang namanya fisika, mas.
    Apalagi kimia. . .:lol:

    Aku lebih suka ke matematik. Dulu pas PMB sempat mau ambil prodi itu, tapi ko ya dirasa2 horror juga.😆

  7. eh kirain kisah cinta antara dua manusia, rupanya antara manusia dan pelajaran -____-”
    tapi kalau dipikir cinta yang tak harus memiliki itu, kayak kita beli motor tapi motornya dipake orang lain😦

  8. kira-kira dengan adanya fb bisa dilacak nggak keberadaan pak Sis (tapi mungkin udah punya bini kali ya hhh).Tapi kalo jodoh nggak akan kemana kok, paling tidak jodoh sama ilmu fisikanya hhh

  9. Fisika inti fisika atom…sptnya keren mata kuliah ini ya? Nah kalau persamaan Schrödinger atau formula Bohr..kayaknya pernah kenal tempoe doeloe, tp udah lupa tuhh

  10. kalau aku dulu awalny suka biologi mass….
    tpi setelah itu berpaling karena biologi mengandalkan hafalan…gmana mau ngafal kalau bru baca beberapa kata udah ngorok
    akhirnya cinta ku menemui pelabuhannya pada matematika….
    cintaaa bget pokoknya masss😉

  11. hahaha…kalo saya lebih suka bahasa dehhh…skrang lagi pengen bahasa jepang…meski orang2 indo pada demam korea, tetep…seleb2 jepang lebih keren dan alami…cute ^_^ (lhooo??kk jd ksini?)

  12. serasa membaca komik jepang..dimana murid yang suka sama gurunya😛
    cinta memang tak harus memiliki
    tapi cinta memberikan kita kesempatan untuk berjuang sampai memiliki
    tertanda -ronal-
    hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s