Ulang tahun

Setelah merenung lama, akhirnya muncul juga beberapa kalimat yang bisa mewakili pikiranku. Segera kuketikkan di komputer. Selesai mengetik kubaca-baca lagi. Hhmmm, sebenarnya ada yang kurang pas sih. Akupun berpikir lagi untuk menyempurnakannya. Setelah beberapa saat, ternyata aku tak mampu mendapat kata yang lebih pas. Sudahlah, aku menyerah. Jadinya kuprint saja kalimat yang telah kubingkai gambar-gambar itu di kertas photo. Setelah kupotong rapi, kemudian  kumasukkan dalam kotak kecil yang berisi jam tangan mungil.

Keesokan harinya, aku memang sengaja berangkat lebih awal. Sekolahan masih sepi saat aku sampai. Ketika masuk kelas, kukeluarkan kotak kecil yang sudah terbungkus rapi itu dengan hati-hati.  Kuhampiri meja tempat duduknya, lalu kuletakkan kotak itu di dalam laci. Akupun keluar lagi. Kali ini untuk mengisi perut karena tadi tidak sempat sarapan di rumah, sekalian menunggu bel masuk berbunyi.

Makanan yang biasanya terasa nikmat, kali ini terasa hambar. Aku hanya mengaduk-aduk saja teh yang ada di depanku. Rasanya jadi malas untuk makan. Pikiran ini, entah mengapa jadi lari kemana-mana, sulit dikendalikan. Sebenarnya sudah beberapa waktu sih, sejak rasa itu muncul sedikit demi sedikit.  Rasa yang justru bertolak belakang dengan apa yang berusaha kupertahankan, walaupun kini aku sudah tidak yakin lagi bisa mempertahankannya.

Ketika awal-awal mengenal dirinya, aku sudah bertekad bahwa kami hanya akan berteman saja. Bahkan ketika suatu kali dia menyinggung tentang hal itu aku dengan yakin berujar,

“Tenang, kita kan hanya sebatas teman saja. Tidak lebih.”

Dia pun tersenyum, menampilkan kedua lesung pipitnya yang manis, lalu  berkata sedikit menggoda,

“Kamu yakin Ditya? Benar lho ya, tidak boleh minta lebih”. Kami berdua pun tertawa. Sebagai siswi pindahan dari kota besar, kuakui dia bukan tipe gadis pemalu seperti kebanyakan siswi lain di sekolahku.

Kalimat yang pernah kukatakan itulah yang sekarang menjadi bumerang buatku. Sial. Mengapa juga harus muncul sesuatu yang lain di hati ini. Semakin kucoba untuk menepikannya, kenapa rasa itu justru semakin berkuasa. Andai saja hidup itu bisa di-reset, tentu akan kupencet tombol itu, lalu ku atur ulang, kalau perlu ku pasang firewall tercanggih biar tidak ada malware yang merasuk hatiku lalu mengobrak-abrik sistem yang sudah tertata di dalamnya.

“Seperti inikah rasanya kalau seseorang mulai tertarik kepada lawan jenis?” pikirku.  Haruskah aku berterus terang? Rasanya aku belum seberani itu. Seperti dihari ulang tahunnya ini, semestinya aku menyerahkan hadiah itu langsung, bukannya dengan cara sembunyi-sembunyi seperti itu. Tapi aku tak akan kuasa bahkan untuk sekedar mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Ah, betapa tidak bernyalinya diriku.

Teeetttt… teettt…

Bunyi bel sekolah menyadarkanku. Dengan segera aku hendak meninggalkan kantin.

“Mas mas, uangnya belum mas.” panggilan itu menyadarkanku bahwa aku belum bayar.

Buru-buru aku membayar kemudian setengah berlari aku menuju kelas. Kulihat dia sudah duduk di mejanya. Ketika melewatinya, sekilas kulirik laci meja itu, kotak kecilnya sudah tidak ditempat.

Seharian itu aku berulang kali mencuri pandang kepadanya. Tetapi sepertinya dia tenang-tenang saja. Tidak penasarankah dia akan kotak kecil itu? Aku memang tidak mencantumkan namaku di kotak itu. Biarlah dia menganggap itu dari salah satu pemuja rahasianya.  Hei, mengapa justru aku yang gelisah seperti ini?

Pelajaran Matematika yang selalu sukses membuat kepalaku pening melengkapi ketidak-beruntunganku. Sedang asyik-asyiknya melamun, pak guru yang berambut ikal itu menyuruhku mengerjakan soal yang ditulisnya di papan tulis. Alhasil, aku hanya bisa garuk-garuk kepala saja. Demi melihatku tak berkutik di depan kelas, pk guru yang juga suka mbanyol itu pun memintaku kembali ke mejaku dengan disertai pesan

“Ya udah balik ke mejamu sana, ntar malah pingsan di depan, aku yang repot”.

Pesan yang sukses membuat seisi kelas tertawa, termasuk si dia. Ah malunya. Ketika kembali kuutak-atik soal itu, ternyata sebenarnya mudah saja. Duh, apa yang salah denganku.

Ketika bel tanda sekolah usai berbunyi, rasanya lega sekali. Aku sengaja berlama-lama menata bukuku. Bahkan ketika teman sebangkuku mengajakku pulang, aku memberi alasan. Kali ini aku memang ingin pulang terakhir. Sambil memasukkan buku ke dalam tas, kuamati dirinya yang melangkah keluar kelas, tak sekalipun menoleh ku. Hhhmmm.

Akupun terus menyibukkan diri sampai suasana benar-benar sepi sebelum akhirnya keluar kelas lalu berjalan menyusuri lorong diantara kelas-kelas yang telah sunyi. Aku berjalan pelan-pelan, sambil sejenak menikmati rasa itu. Rasa yang membingungkan tetapi sekaligus memberikan kenikmatan.

Tiba-tiba saja dia keluar dari salah satu kelas dan berdiri di depanku. Aku pun berdiri mematung, kaget sekaligus tak tahu mesti bagaimana. Lalu dia mengeluarkan tangannya, yang tadinya di taruh di belakang kini disilangkannya di depan, jam itu telah melingkar di pergelangan tangannya. Ah, rupanya dia sudah tahu. Perasaanku campur aduk, antara malu karena ketahuan, senang karena ternyata dia memperhatikan sekaligus khawatir apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Terima kasih untuk hadiah ini.” ucapnya sambil seolah-olah membetulkan posisi jam tangan itu.

“Sama-sama” jawabku kaku. Dia lalu mengeluarkan kertas kecil itu dari dalam tasnya.

“Tak kusangka kau bisa menulis seperti ini.” katanya sambil menyeringai. Akupun mulai tenang.

“Kuharap kau menyukainya.” jawabku

“Hhhmmm, apakah kau masih yakin pada pendirianmu?” Ah gadis ini, betapa pandainya dia membaca kegelisahanku.

“Ingat ya, kamu sendiri yang berkata begitu. Jadi tidak boleh meminta lebih.” ia mengayunkan telunjuk jarinya tanda melarang sambil menyeringai nakal. Sejurus kemudian dia tertawa dan berjalan menjauhiku.

Sialan, aku seperti buku terbuka di depannya.

“Santi, tunggu …” seruku bergegas mengejarnya.

***

* cerita geje bin mumet di akhir minggu.
Selamat berakhir pekan sahabat😀

70 thoughts on “Ulang tahun

  1. Uhhhuuuyy. Semoga lancar Kakaaaak..
    Ini mah Santi lagi nunggu si masnya buat berani ngomong dan melihat seberapa jauh keberanian sampe bisa menelan kata-kata sendiri..

    Lagi deh. Uhhuuuyyy

  2. Aissssh…baca ini serasa sekolah lagiiiii….
    Kenapa kok adegan malu-malu kucing berdua itu bikin aku yang malu-malu yah #eaaaaaa
    Hahaha…keep writing yak! Ada lanjutannya lagi gak nih? ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s