Sebuah mimpi

Apakah sahabat pernah menyaksikan film Laskar Pelangi? Film yang diangkat dari novel-nya Andrea Hirata. Sebuah film yang banyak mendapat pujian karena mengobarkan semangat untuk berani bermimpi.

Saat pertama kali menyaksikan film itu, saya jadi teringat kembali dengan masa kecil saya. Ketika saya kelas 1 atau kelas 2 SD, saya pernah bilang ke Ibu bahwa saya ingin sekolah di luar negeri. Sebagai anak seorang sopir di suatu usaha kecil dengan gaji kecil, keinginan belajar di luar negeri bagaikan pungguk merindukan bulan. Dan jika dua puluh tahun kemudian saya bisa mewujudkan keinginan saya untuk belajar di luar negeri, itu adalah anugrahNya yang luar biasa bagi saya.

Hal itu memang tidak datang dengan sendirinya, ada banyak jalan berliku di dalamnya. Dan juga ada orang yang memiliki andil besar didalamnya, yaitu orang tua😀. Sebagai seorang yang putus sekolah karena biaya, Bapak menginginkan anak-anaknya bisa sekolah lebih tinggi dari dirinya yang hanya lulusan SD, dan akan lebih baik lagi jika bisa lebih tinggi dari Ibu yang lulusan SMP. Ya itulah mimpi Bapak, menyekolahkan anak-anaknya lebih tinggi dari dirinya. Karena Bapak yakin bahwa pendidikan yang baik akan memudahkan anak-anaknya mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Karena mimpinya itu, orangtuaku sangat memprioritaskan sekolah anak-anaknya, sehingga segala hal tentang keperluan sekolah akan diusahakan untuk dipenuhi. Tentu saja saat kecil saya tidak paham akan mimpi bapak itu. Tahunya kalau minta dibelikan mainan kok susah dapatnya, tapi kalau keperluan sekolah kok tidak.

Sejak kecil, kami dibiasakan untuk membantu-bantu pekerjaan rumah. Ketika saya duduk di kelas 4 SD, Ibu mulai membuat makanan kecil untuk menambah penghasilan. Jadi pulang sekolah saya jarang main, seringnya langsung pulang ke rumah terus membantu Ibu. Usaha ini bertahan beberapa tahun. Kadang-kadang saya merasa jenuh juga karena ingin punya waktu lebih banyak untuk bermain, tetapi Bapak sering memberi pengertian bahwa kami harus bekerja bersama-sama. Tetapi jarang bergaul memang lama-lama membuatku tumbuh menjadi anak yang pemalu dan kurang percaya diri, dan efeknya masih terasa sampai sekarang meskipun terus kuminimalisir.

Waktu terus berlalu, dan Tuhan memberikan jalan bagi mimpi Bapak. Ada saja rejeki yang bisa dipakai untuk membayar uang sekolah ketika kami naik tingkat. ‘Bejone bocah-bocah’ (keberuntungan anak-anak), begitu istilah Bapak. Misalnya waktu saya SMP, itulah pertama kalinya saya merasakan yang namanya beasiswa, meski cuma setahun. Selain itu Bapak juga memulai kerja sambilan. Atau saat saya SMA, rumah di depan rumah yang kami tinggali dikontrak oleh sebuah perusahaan sebagai kantor cabang. Kesempatan ini dipakai Ibu untuk jualan es teh. Lama-lama ada juga yang minta dibuatkan mie goreng. Jadi teringat saat-saat mendekati Ujian Akhir SMA, kalau pas nunggu warung, saya lakukan sambil latihan soal ujian, yang bukunya saya pinjam dari teman yang ikutan Bimbel. Kasihan pembelinya, kadang mesti bilang beberapa kali baru saya sadar akan kehadiran mereka. Untungnya mereka pengertian😀. Sayang kantornya bangkrut beberapa tahun kemudian😦.

Saat SMA inilah saya mulai nyambung dengan mimpi Bapak. Karena sering ikut membantu kerjaan rumah, saya jadi tahu sulitnya mencari uang, dan alasan mengapa Bapak begitu gigih menyekolahkan kami. Saat Bapak menyanggupi untuk menguliahkanku, kesempatan itu tidak kusia-siakan. Bapak hanya mengajukan syarat, pilihlah Yogya atau Solo, karena kedua kota ini dekat dengan kotaku, jadi bisa dilaju naik bis, tidak perlu kos, irit. Selain itu tentu saja pilihlah yang murah😀. Untungnya saat itu sekolah-sekolah negeri masih murah, jadi ya itu pilihan yang paling realistis bagi saya. Dan lebih dari lima tahun, saya menjadi pelanggan setia bis jurusan Yogya. *kuliahnya overtime ya🙂

Kuliah memang sangat merubah pola pikirku. Karena memiliki lebih banyak waktu bergaul dengan teman-teman, kepercayaan diri mulai membaik. Selain itu juga mulai berani untuk bermimpi. Saya mulai berani meyakini bahwa saya bisa mengejar cita-cita masa kecil dulu. Masa kuliah ini benar-benar penuh tantangan, tidak hanya soal materi kuliah, tetapi juga masalah keuangan😀. Supaya bisa survive, saya termasuk dalam barisan pemburu beasiswa. Namanya juga butuh, beasiswa apa saja ya di-apply. Tidak masuk kualifikasi beasiswa itu sering. Tetapi dapat beasiswa juga pernah seperti beasiswa BBM, beasiswa dari keraton, beasiswa Astra, juga sinode gereja. Dan memang beasiswa itu ikut meringankan beban Bapak yang semakin sibuk dengan kerja sambilannya.  Selain itu juga pernah mencoba beberapa kerja paruh waktu, tetapi yang bertahan sampai saya lulus kuliah hanya ngelesi. Dan dari ngelesi ini saya jadi menemukan passion saya🙂. Selain itu, saya juga banyak dibantu sahabat-sahabat yang luar biasa, yang sering meminjami saya komputer dan memberikan diskusi-diskusi menarik😀.

Bapak pernah berujar, ‘Kalau bagi pejabat, menghadiri wisuda anaknya itu biasa. Tapi bagi Bapak yang buruh ini, bisa melihat anaknya di wisuda itu rasanya seperti mimpi’. Hal itu memacu saya untuk terus bersemangat saat lagi down. Karena itulah saya sangat terharu bisa menyelesaikan kuliah S1, setidaknya bisa ikut mewujudkan mimpi orangtua (dan mimpiku juga tentunya🙂 ). Memang dengan mimpi itu, 3 orang dari 4 bersaudara ini bisa selesai S1 dan memiliki pekerjaan yang lebih baik dari Bapak. Bapak beberapa kali berkata bahwa itu adalah mimpinya yang menjadi kenyataan.

Bukan sinetron mimpi yang tertukar🙂

Karena merasakan nikmatnya beasiswa, maka ketika bekerja selepas S1 pun saya masih mencari-cari beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Setelah memakai jurus pukat harimau, akhirnya ada juga beasiswa yang nyantol. Alhasil saya bisa mewujudkan keinginan untuk belajar di luar negeri dan merasakan kehidupan Melbourne yang nyaman. Apalagi bisa belajar dengan tenang, tidak perlu pusing tentang biaya. Rasanya nikmat banget😀. Setelah dari Melbourne masih lanjut lagi ke Taiwan🙂. Terima kasih Tuhan.

Mimpi, itulah warisan terbesar orangtua untukku. Dengan mimpi itu, mereka telah menjadi Hero bagi kami.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lovely Little Garden’s First Give Away

61 thoughts on “Sebuah mimpi

  1. Semangatnya itu Mas Hindri, bikin aku ngiri..Bukan saja waktu muda aku tak setangguh dirimu, sekarangpun rada kurang memberikan ketangguhan kepada anak2..Mereka terlalu aku lindungi..Yah hasilnya biasa2 saja deh semangat belajar anakku🙂

    • Mungkin karena rasa cinta, saya memang suka dengan dunia persekolahan, sepertinya memang disitulah kemampuan saya. Padahal saya itu sering ngiri dg para entepreneur, seperti bu Evi, yg bisa mandiri, memiliki usaha sendiri dan memberikan lapangan kerja buat banyak orang. Perlu skill yg lengkap. Saya paling stress duluan kalau diminta menjalankan bisnis …

  2. Keteladanan Bapak Ibu yang luar biasa Mas dan postingan ini menginspirasi banyak sekali jiwa.
    Genap janjiNya dalam Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia.
    Selamat mewujudkan dan merajut mimpi berikutnya. Salam

  3. mungkin hanya aku yang tak pernah terlalu banyak berharap
    dulu ditanya ortu mau sekolah kemana saja aku bilang gausah, aku mau kerja aja
    niate sih biar bisa bantu nyekolahin adik adik. tapi nyatanya sekolah engga, bantuin adik juga engga
    hehe payah…
    salut buat ente, bro…

    • itu kan hanya tergantung minat aja mas. Kalau emang minatnya bukan sekolah, ya kurang maksimal juga jika dipaksakan.
      Lagian sekolah itu bukan satu2nya jalan menjadi berhasil …

  4. Selalu ada jalan ketika kita menapak menuju kebaikan. Orang tua kita mempunyai peran yang tak boleh dilupakan. Doa mereka untuk anak2nya merupakan salah satu upaya yang selalu dimohonkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  5. Pingback: Dari BERAT menjadi BERKAT | RyNaRi

  6. hal seperti ini bener2 kehidupan lah
    berusaha
    jatuh bangun
    tapi tetep bertahan untuk cita2

    aku juga harus ya
    membangun mimpiku juga
    moga kuliahnya lancar dapat kerjaan mapan

    ‘tantunya buat nyenangi orang tua juga😀’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s