TOGOR

Even tujuh belasan merupakan even yang sangat meriah dan identik dengan berbagai perlombaan. Pernah suatu kali saya mesti melewatkan even tujuh belasan pada saat sedang KKN. Ini bukan KKN yang Korupsi Kolusi Nepotisme, tetapi Kuliah Kerja Nyata, Meskipun bagi beberapa oknum mahasiswa bisa menjadi ajang Kisah Kasih Nyata karena mereka berhasil menemukan separuh jiwanya saat KKN 😀 .

Saat itu saya KKN di salah satu desa di Kebumen, Jawa Tengah. Saat akan berangkat KKN rasanya berat, karena tempatnya cukup jauh, jadi pasti akan jarang pulang. Tetapi sungguh beruntung, teman-teman sekelompokku (kami ber-7) orangnya asyik-asyik, jadi kami sangat kompak. Ditambah lagi kami mendapat tuan rumah yang baik, sehingga KKN berasa sangat spesial. Kami tinggal di rumah pak Lurah dan putra-putri beliau sudah besar-besar dan tidak tinggal serumah, jadi mereka cuma tinggal berdua (tetapi kerabatnya banyak di desa situ). Kami udah dianggap seperti anaknya sendiri. Nah istri pak Lurah, kami sering menyebutnya dengan Ibu, orangnya suka menolong plus humoris, jadi meskipun sering kami isengin tetapi nggak pernah marah, malah tertawa bahagia. *dasar kami anak-anak nakal.

Karena waktu itu mendekati acara 17 Agustus, maka salah satu kegiatan kami adalah mensukseskan program memperindah jalan utama desa (untuk lomba desa di tingkat kecamatan). Kegiatan utamanya adalah membangun togor di depan rumah penduduk di sepanjang jalan utama desa, plus memperbaiki gapura selamat datang. Kalau kegiatan KKN lainnya sih banyak: plangisasi, penyuluhan, ngelesin, program KTP, de el el.

Oya, togor adalah sejenis tugu/gapura mini,  tingginya sekitar 1-1.5 meter dan didirikan di samping kiri dan kanan jalan masuk ke halaman rumah. Program ini merupakan program swadaya masyarakat dan desa. Penduduk yang depan rumahnya dibangun togor menyediakan batu bata, sedangkan pihak desa menyediakan pasir, semen dan tenaga sedangkan kami bertugas mendesain bentuk dan mengecat (salah satu teman di kelompokku anak arsitektur, jadi no problemo :D). Bentuk dasar togor biasanya seperti gambar di bawah.

Togor

Tanpa banyak berdebat, kami bisa menyelesaikan rancangan togornya dan memberikannya ke pak Lurah. Dan pak Lurah pun langsung setuju dengan sedikit revisi saja. Program ini merupakan program yang paling banyak menyita waktu kami karena jumlah togor yang  harus dibuat sekitar 20 pasang dengan waktu sekitar 1 bulan. Meskipun yang bertugas membangun langsung adalah tukang, tetapi kami harus ikut mengontrol dan juga membantu-bantu jadi laden tukang (pembantunya tukang). Bisa di bayangkan deh, kami yang biasanya memegang pensil dan pena kadang ikut mengaduk semen. kikuk pastinya. Kadang ikut bantu ngangkut pasir atau adukan semen, yang gampang. Tapi lebih seringnya sih ikut menonton lalu kalau pas makanan datang ya ikut makan. *dasar malas.

Selain membantu tukang, kami juga mesti mengerjakan cetakan untuk membuat logo di togor itu. Cetakannya dibuat dari triplek yang di lubangi. karena bahannya triplek maka mudah rusak, sehingga kami mesti membuat beberapa buah.  Dan kami biasa mulai mengerjakannya malam hari, setelah selesai dengan aktivitas yang lainnya. Sering kali sampai dini hari.

Ketika sudah mendekati tanggal 17, masih ada beberapa togor yang belum selesai, jadi mesti kerja lebih cepat. Ketika semua togor sudah jadi, kami langsung mulai mengecat togor-togor tersebut. Dan yang membuat kami terharu, tanpa dikomando, Ibu (istri pak Lurah) mengerahkan pasukannya (ibu-ibu PKK) untuk membantu mengecat. Dan benar saja, dalam waktu singkat tugas mengecat sudah selesai. Terima kasih untuk Ibu dan pasukannya.

Ibu ini kalau pas menyambut tamu lucu. Badannya sedikit membungkuk, tangan kanan di kepal dengan ibu jari mengarah keatas. Sebenarnya ini gaya yang umum dipakai untuk mempersilahkan tamu di daerah itu, tetapi entah kenapa, kalau melihat Ibu yang melakukannya kok jadi terlihat gimana gitu, khas banget soalnya. Sekilas dari samping posisinya seperti Semar (tapi Ibu nggak gemuk sih, cuma posisinya aja yang mirip). Nah sebagai salah satu keisengan penghargaan terhadap Ibu, kami membuatkan siluetnya di gapura masuk desa. Tentu saja siluet itu sedikit di samarkan supaya tidak mengundang perhatian bagi mereka yang tidak berkepentingan😀. Ketika kami menunjukkan siluet tersebut ke Ibu, beliaunya bukannya marah malah tertawa-tawa bahagia. *mungkin dalam hatinya menjerit, anak-anak ini kok semakin kurang ajar ya.

Karena cat untuk togor dan gapura masih sisa, maka kami mempergunakannya untuk membuat zebra cross di depan SD, yang ada di jalan utama desa juga, plus beberapa corat-coret nggak jelas di atas jalan, biar jalannya meriah😀. Mengecatnya dilakukan pada malam hari, saat jalanan sepi.

Untuk mengetahui kekuatan lawan, kami juga berkeliling ke desa-desa lainnya di kecamatan itu. Dan menurut kami, apa yang sudah kami kerjakan tidak kalah dengan desa-desa tetangga (tapi lebih bagus nggak ?). Beberapa hari sesudah tanggal penilaian, pk Lurah memberitahu bahwa desanya mendapatkan juara II. Awalnya kami kurang puas sih (maunya kan juara I secara ngerjainnya udah all out githuuu). Tetapi karena pk Lurah mengatakan bahwa itu hasil yang baik, ya kami jadi senang. Kalau nggak salah ingat, waktu itu pk Lurah menambahkan bahwa itu adalah prestasi tertinggi desanya dalam lomba itu selama ini. Semoga aja bukan cuma untuk menyenangkan hati kami.

Setelah 17 Agustus kami masih tinggal beberapa minggu di desa tersebut. Bisa dibilang kegiatannya lebih santai karena togornya sudah selesai. Kisah togor ini merupakan kisah 17 Agustus yang paling berkesan bagi saya sampai sekarang karena ada banyak kenangan didalamnya.

***

Tulisan ini diikutkansertakan dalam Kontes Kenangan Bersama Sumiyati-Radit Cellular.

49 thoughts on “TOGOR

  1. Terimakasih Wong Cilik, kenalan dulu dong namanya siapa? wanita atau pria, biar bunda tau kan tali asih wanita dan pria ada bedanya, terima kasih ya sudah tercatat sebagai kontes kenangan dan jangan lupa tgl 20 Oktober ada pertemuan untuk semua peserta di Kanting Keluarga Bunda Lahfi🙂

  2. Seru banget kayaknya, waktu kecil aku selalu senang kalau ada kakak2 mahasiswa KKN ke desa kami. Selalu yang pertama kucari adalah mahasiswa yang paling ganteng…hahaha.. Kecil-kecil udah centil ya akiuuhh.. Sayangnya aku nggak sempat merasakan KKN itu sendiri🙂

    Good luck!🙂

  3. kirain mau cerita soTO boGOR he..he…, kata yg baru pertama dengar
    aku jadi ngebayangin Semar ( ala pak Sampan Hismanto di TVRI dulu ) dan gaya jalannya yg lucu

  4. hahaha awas kualat bu Lurah loh mas.. jadi ingat nih saat dulu bantu teman-teman mahasiswa yang KKN di desa saya. Membangun papan nama di kompleks pemakaman.

    sukses kontesnya mas

  5. Hehe… baru tau ada istilah togor😀
    Saya sering kali merasa lucu juga saat melihat orang yang bergaya sopan ala semar itu. Entah laki2 atau perempuan. Tapi ya, namanya juga tradisi, aku mesti bisa maklum🙂

  6. Mas Hindri, ibu itu pasti punya selera humor yg baik, makanya dia tertawa senang ada anak2 kreatif yg mampu menangkap karaktet alamiahnya. ibu2 kaya gitu bikin dunia jd tempat hidup yg menyenangkan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s