Sebuah pertanyaan

El menghempaskan tubuhnya di kursi. Hatinya bimbang antara pulang atau mencari alasan. Baru saja ibunya menelpon, memintanya pulang pada peringatan 1000 hari meninggalnya eyang dan El belum bisa memberikan jawaban. Memang di tempat asalnya El, peringatan 1000 hari setelah seseorang meninggal adalah peringatan yang terbesar sekaligus yang terakhir, sehingga biasanya keluarga besar akan berkumpul. Bukannya El tak ingin pulang, tetapi ada hal lain yang sering membuatnya enggan pulang jika ada acara yang melibatkan banyak anggota keluarga seperti itu. El lebih senang pulang di waktu-waktu biasa saja, bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan kedua orangtuanya dan juga tidak terlalu banyak pertanyaan. Ah ya, mungkin pertanyaan itulah yang membuatnya gamang untuk pulang. Sebuah pertanyaan sederhana yang diucapkan sewajarnya, tetapi cukup membuatnya merasa dihakimi. Mungkin El terlalu sensitif dengan pertanyaan tersebut tetapi mungkin juga karena hal itu akan membuka luka lamanya.

Ada dua perempuan istimewa yang pernah singgah di hati El. Adalah Sinta, teman semasa kecil, yang menjadi orang pertama yang mampu menggetarkan hatinya. Mereka memang teman akrab sejak kecil karena rumah mereka berdekatan. Dan rupanya keakraban itu menumbuhkan benih-benih rasa di hati El. Di suatu senja, El yang baru saja melewati umur 17 tahun melancarkan aksinya. Di boncengkannya Sinta dengan sepeda kumbangnya menyusuri jalanan pinggiran desa. El menghentikan sepedanya di bawah sebuah pohon rindang, di jalanan yang kiri kanannya menghampar sawah yang luas. Dengan segenap keberanian yang telah dikumpulkannya, dia pun menyatakan perasaannya pada Sinta. Tetapi bayangan akan romantisnya senja yang memerah tidak terwujud. Dengan dalih tidak ingin merusak persahabatan mereka selama ini, Sinta pun menginginkan hubungan mereka hanya sebatas teman saja. Dunia terasa begitu gelap bagi El. Dikemudian hari El menyadari bahwa Sinta jatuh hati kepada anak pak Lurah.

Kesempatan tidak datang sekali, begitu juga cinta bisa datang dua kali. Meskipun memerlukan waktu yang cukup lama bagi El untuk menepiskan perasaannya kepada Sinta, ia toh bisa juga merasakan getar-getar rasa itu untuk yang kedua kalinya. Dan gadis yang membuatnya sulit tidur itu adalah Santi, teman yang dikenalnya saat kuliah. Entah mengapa, saat pertama kali bertemu Santi, dia teringat akan Sinta yang saat itu sudah menjadi menantu pak Lurah. Tetapi bukan karena hal itu jika kemudian El dan Santi menjadi teman dekat. Kedekatan mereka mengalir begitu saja. Meskipun begitu, gadis itu tak juga membuka hati untuk El meskipun El telah menunggunya berganti pacar dua kali sebelum akhirnya El  lulus kuliah dan kehilangan kontak dengan Santi.

Kini, ketika usianya baru saja melewati kepala empat, El tak juga merasakan getaran seperti yang pernah dirasakannya pada Sinta dan Santi. El tetap mensyukuri kesendiriannya meskipun untuk itu dia harus belajar menghadapi pertanyaan sederhana itu. Mungkin karena banyak orang memang tidak terlalu kreatif untuk membuat pertanyaan basa-basi, atau  bisa juga karena ia adalah anak lelaki satu-satunya, yang diharapkan bisa menjadi penerus garis keturunan keluarga. Jika mengingat yang terakhir itu, El merasa bersalah kepada kedua orang tuanya.

Tetapi bukankah jaman telah berubah dan anggapan seperti itu bukan sesuatu yang krusial. El pun sering berkilah, ‘bukankah hidup sendiri itu merupakan pilihan?’ Jika ia merasa nyaman untuk hidup sendiri, mengapa orang lain mesti ribut dengan pertanyaan itu?

Tetapi tak bisa dipungkiri, kadang kadang El pun bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia benar-benar yakin telah merasa nyaman?

***

26 thoughts on “Sebuah pertanyaan

  1. benarkah ia merasa nyaman ???? hihihihi

    padahal karakter el yang sebenernya suka gombal loch hahahahaha
    SUksess GAnya yahh

    trus gimana tuch ya kabar sinta dan santinya haha
    ehhh salah ding SANTI🙂

  2. Mas, jangan2 sesuatu terjadi Pada El, seperti penyimpangan orientasi sexual gitu..karena tabu-tabu dlm masyarakat dia menyembunyikan penyimpangan itu dengan rapi…:)

  3. Saya rasa hidup sendiri tanpa kehadiran seorang kekasih atau pasangan hidup itu tidaklah nyaman. Berapa banyak orang berkata mampu bertahan dalam kesendirian namun hatinya menangis mengharapkan datangnya cinta dari seorang kekasih. Sudah begitu, dijodohkan pun ia tak mau, maka lengkaplah penderitaan batin seseorang. Dari luar tampak tegar, di dalam batin hancur teriris-iris.

  4. …..banyak orang memang tidak terlalu kreatif untuk membuat pertanyaan basa-basi …. Trimakasih Mas diingatkan gaya grapyak yang kadang nyelonong ke area privasi. Salam

  5. Saya kok jadi pengen ngakak setelah baca cerpennya. Ditambah baca komentar-komentarnya. Tidak memilih pasangan kan juga sebuah pilihan😆

    Makasih ya. Selamat menunggu pengumumannya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s