Hemat

Berada di daerah baru biasanya kita akan memiliki keinginan untuk merasakan masakan daerah setempat. Tetapi kali ini, saya tidak akan menceritakan tentang jenis masakan, tetapi beberapa hal unik yang saya amati saat makan, yang jarang atau belum pernah saya jumpai di Indonesia.

Disini, beberapa warung tidak memiliki banyak pegawai. Biasanya warung-warung makan seperti ini memiliki cara unik untuk berhemat serta mengatasi beban kerja yang berlebihan. Misalnya mereka tidak menggunakan piring porselen atau melamin, tetapi menggunakan piring kertas, jadi selesai makan langsung di buang, tidak perlu mencuci.

piring kertas

Ada juga yang menggunakan piring, tetapi dilapisi plastik. Jadi selesai makan, mereka tinggal membuang plastiknya, ga perlu cuci piring.

piring di ‘sarungi’ plastik

Ada juga yang meminta pengunjung warungnya untuk membereskan piringnya sendiri. Biasanya sudah disediakan tempat untuk piring-piring kotor dan juga tempat sampah makanan dan sampah biasa. Jadi setelah makan, pengunjung membereskan piringnya sendiri, membuang sampah pada tempatnya dan menaruh piring kotor di tempatnya.

tempat piring kotor

Kalau diterapkan di Indonesia, kira-kira bisa laku nggak ya? Sudah membayar, masih disuruh beres-beres sendiri😀

41 thoughts on “Hemat

  1. Susah kalau di Indonesia mah… hihihi.
    Kayak ke Seven Eleven atau McD, kan sebenernya kita bisa buang sampah sendiri atau naruh tray balik ke tempatnya tetep aja enggak… soalnya kan udah ada yang bersih-bersih hihihi

  2. bisa dong… di mc donald sebenarnya sudah diterapkan seperti itu…. hanya saja orang indonesia masih belum semua melakukan hal itu… mentalitasnya masih boss sob.. hehehhe

    • disini jg ga nyuci kok mbak Ely, cuma mberesin sendiri aja … mungkin negara-negara yang tenaga kerjanya mahal jadi seperti itu kali ya. Sama kasusnya dengan mempunyai pembantu, di Indonesia hal biasa, tapi di negara-negara seperti itu hanya orang yang benar-benar kaya saja yang bisa punya pembantu …

  3. hah? Piring dibungkus plastik? Baru tau…
    Kalo di Indonesia, sekarang udah banyak cafe yang makanannya dihidangkan di atas piring yang terbuat dari anyaman bambu (atau apa ya…?). Trus dialasin kertas nasi. Jadi cuma kertas nasinya yang dibuang, piringnya gak perlu dicuci🙂

  4. hahaha piring di bungkus lagi plastik ??? ga perlu pake piring aja mending makan nya di plastik aja sekalian hahaha😀
    terus ?????? si pembeli nya harus beresin ??? terus apa kabar nya sama pepatah ini ” Pembeli adalah Raja” hahaha kasian banget yaa itu pepatah !
    tapi klo di indonesia bakalan susah banget kaya gtu !
    dan lagi siapa juga yang mau hmmm.. kita yang bayar kita juga yanng harus beresin hahah😀

  5. Dengan meningkatnya pendidikan, dimana tenaga buruh kasar semakin mahal, bukan gak mungkin Indonesia juga akan menggunakan piring disposible. tapi sekarang masalahnya jd isu lingkungan nih Mas🙂

    • Iya bu Evi, isu itu juga memperngaruhi beberapa kebijakan seperti melarang penggunaan plastik untuk bungkus makanan (bungkus makan pakai kertas), tidak adanya tas plastik gratis di supermarket2, pemilahan sampah.

  6. karena kebiasaanlah yang sulit mewujudkannya.
    Mungkin perlu niru seperti yang dilakukan di tanah suci, jamaah haji bisa minum kopi yang gelasnya bisa dimakan sekalian, mirip es krim, jadi nggak perlu rpot mikirn sampah.
    Bisa jadi kelak piring seperti itu, sebagaian bagian terakhir dari makan, sebagai penutupnya.

  7. boleh juga ya kalo diterapkan di Indonesia? tapi kalo semua resto disini menerapkan sistem demikian, pengangguran bertambah donk? soalnya tenaga cleaning service jadi ga dibutuhkan! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s