Jurnal Inul

Jika Agnes Monica dan Inul Daratista berkolaborasi untuk menyanyikan sebuah lagu, tentu tak seorang pun akan terkaget-kaget, karena memang itulah bidang mereka. Tetapi jika kedua insan tersebut berkolaborasi untuk menulis tentang pertanian, tentu jagad hiburan akan terhenyak, terkaget-kaget, terkejut dan tergopoh-gopoh meliput tentang hal itu.

Kehebohan ini bermula saat nama mereka terpampang sebagai co-author  di sebuah artikel, yang hebatnya, di muat di jurnal internasional. Sedangkan penulis utama sekaligus corresponding author-nya adalah Nono Lee, yang berasal dari Institute Dangdut, Jalan Tersesat no 100, Jakarta. Supaya lebih heboh lagi, Nono Lee ini ternyata tidak hanya mempublikasikan 1 artikel, tetapi dua artikel sekaligus yang diterbitkan dalam waktu yang hampir bersamaan. Artikel satunya lagi bekerja sama dengan pejabat palsu. Isi kedua artikel ini mengambil dari artikel di jurnal yang lain, itulah sebabnya artikelnya terlihat cukup meyakinkan dan mungkin reviewernya tidak mengecek masalah plagiarism (yup, in kelalaian redaksi jurnalnya).

Jika kasus plagiarism yang sempat heboh sebelumnya berasal dari seorang mahasiswa doktoral di salah satu institut teknik ternama di Indonesia, maka kasus jurnalnya Inul ini lebih parah lagi. Bisa dibilang aksi ini adalah aksi pelecehan. Masih belum jelas juga apa motif dari oknum penulis ini sehingga dia begitu nekat dan juga niat untuk melakukan aksinya. Bagi jurnal yang memuat kedua artikel tersebut, hal ini adalah kasus yang sangat mencoreng reputasinya. Dan memang patut di pertanyakan juga kualitas proses reviewnya.

Kedua tulisan iseng ini dipublish di open access journal (tetapi sekarang sudah di tarik oleh pengelolanya). Di tengah gempuran para penerbit raksasa, yang menarik uang sangat besar untuk bisa mengakses artikel di jurnal-jurnal mereka, kehadiran open access journal sedikit banyak dilandasi oleh ketidakpuasan para akademisi/peneliti yang merasa tulisan mereka terlalu di komersialkan oleh publisher-publisher tersebut. Ya mungkin situasinya miriplah dengan open source vs commercial software😀. Padahal penulis jurnal tidak mendapatkan royalti untuk tulisan mereka. Memang hal ini seperti pedang bermata dua, disatu sisi, para akademisi/peneliti memerlukan jurnal-jurnal berkualitas untuk mendukung riset mereka dan juga mempublikasikan hasil karyanya, tetapi disisi lain, mengirimkan tulisan ke jurnal-jurnal itu seolah mendukung tindakan para publisher yang mengeruk uang sangat besar dari tulisan-tulisan mereka.

Dan semestinya, open access journal ini bisa membawa angin segar, karena artikel disitu bisa di unduh secara gratis. Open access journal sebenarnya bisa sangat membantu banyak kampus di Indonesia.  Saya pernah mendapat informasi salah satu staff perpus di kampus sebelum kampus saya yang sekarang,  mereka menghabiskan sekitar 10 juta dollar/tahun untuk memperkaya koleksi literaturenya, termasuk akses ke jurnal-jurnal itu. Jumlah yang tidak sedikit jika dirupiahkan. Inilah mengapa kampus-kampus di Indonesia banyak yang kekurangan sumber literature, berlangganan jurnal saja mahal minta ampun, belum lagi buku-buku teks harganya diatas 100 dollar per buah, padahal kalau perpustakaan kan perlunya beribu-ribu buku tiap tahunnya😀. Jadi tidak heran jika open access journal ini sebenarnya bisa sangat membantu peneliti. Hanya saja memang, open access journal ini masih relative baru, jadi tidak bisa dipungkiri bahwa kualitasnya masih di bawah jurnal-jurnal yang diterbitkan publisher besar (dan inilah mengapa mereka bisa kecolongan seperti ini).

Selain itu, tidak sedikit juga yang menyalahgunakan fenomena membludaknya mahasiswa pasca sarjana (yg memerlukan publikasi sebagai syarat kelulusan) dengan membuka jurnal abal-abal. Jurnal seperti ini biasanya menawarkan kecepatan proses review (hanya dalam hitungan minggu) dengan konpensasi penulis harus membayar supaya artikelnya bisa terbit (tarifnya ratusan dollar). Jika sudah terjepit, uang ratusan dollar tentu tak masalah bagi seorang mahasiswa, asal bisa mempublikasikan artikel dan lulus (bagaimanapun, orang akan cenderung  memanfaatkan celah-celah sempit jika sudah terjepit). Inilah mengapa banyak universitas hanya mengakui jurnal-jurnal tertentu yang berkualitas saja.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan dari jurnal Inul ini, apakah pelakunya bisa diusut lalu diperkarakan? Apakah ini bisa dimasukkan sebagai tindakan kriminal?

Meskipun kejadian ini bisa dibilang kelalaian dari pengelola jurnalnya (bisa jadi jurnalnya termasuk jurnal ab**-ab**), tetapi kejadian ini cukup mencoreng para peneliti Indonesia.

Bagaimana menurut rekan-rekan?

28 thoughts on “Jurnal Inul

  1. Peraturan baru dari DIKTI, bukan cuma mahasiswa pascasarjana namun mahasiswa S1 pun harus membuat karya ilmiah dan diterbitkan online. Serius, aku juga ngeri akan kemungkinan plagiarismenya😦

  2. Kabarnya sih pake paper generator… Cuma yang kmrn aku coba bisanya cuma dibidang IT lainnya ga ada
    Tinggal masukin nama… jadilah paper… bahaya kan… harusnya diprotes tuh yang buat software eh web paper generator
    (kata dosenku)

  3. Masya Allah yg nulis kok kebangetan banget ya. pasti ada dampak bagi peneliti indonesia lainnya, tambah gak dipercaya kualifikasinya

  4. saya jadi tertawa mas liat jurnal itu, ternyata emang ada, hehe

    tapi agnes dan inul bisa juga kok buat jurnal, tapi nanti judulnya bagaimana cara berjoget dan menari yang aduhai di atas panggung dari sisi ilmiah

    *maksa banget, hehe

  5. kirain mau ngelucu dengan tulisan inul dan agnes monica atau sekedar opening paragraf.. hehehe ternyata malah beneran ya… kok nekat ya… ngomongin pertanian lagi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s