Katrok karena pintu

Istilah katrok, seingat saya di populerkan oleh Tukul dan sering diartikan sebagai ndeso, wagu (tidak pas/ tidak pada tempatnya) maupun lemot. Saya pernah mengalami kejadian yang katrok banget gara-gara buka pintu.

Suatu siang, saya yang sudah sangat lapar, terburu-buru ke warung makan. Siang itu saya ke warung makan yang belum pernah saya datangi sebelumnya, tertarik karena warungnya ramai, jadinya mestinya enak atau murah😀 . Ketika sampai di depan warung, saya berdiri aja di depan pintu yang terbuat dari kaca. Biasanya ada sensor dibagian atas, sehingga pintunya bisa terbuka secara otomatis jika ada orang didepannya. Tapi ini pintu kok nggak buka-buka meskipun saya sudah berdiri di dekatnya. Saya liat ke bagian atas, tidak ada itu sensor. Di pintu juga tidak ada pegangan layaknya pintu yang di buka manual (di geser atau di dorong).

Gimana sih mbuka pintunya ???

Dari dalam, orang-orang mulai memandangi saya, mungkin mereka bingung saya ini sedang ngapain kok berdiri sambil mengamat-amati pintu😀. Saya pun memberanikan diri untuk menyentuh pintunya dan mencoba menggesernya. Tapi kok tidak mau buka.  Saya garuk-garuk kepala sambil mikir lagi bagaimana membuka pintu itu. Saya coba geser pintu itu lagi, tapi kok tidak bisa terbuka. Tiba-tiba dari dalam ada orang yang memberi tahu saya untuk memencet tombol yang ada di pintu itu. Rupanya dia sadar bahwa saya tidak bisa membuka pintu hi.hi.hi. Lah, saya kok tidak melihat tombol itu sebelumnya, padahal tepat di depan mata (jadi peribahasa yang itu benar donk ). Ketika saya pencet tombol itu, pintunya terbuka secara otomatis. ha.ha.ha ya iyalah masak ya iya donk. Setelah bisa masuk, saya pun mengucapkan terima kasih ke orang yang memberi tahu tadi. Di desa saya belum ada pintu seperti itu, jadinya ingin memotret pintunya, tapi kok malu.

Sejak itu saya mulai memperhatikan, ternyata cukup banyak warung yang memakai jenis pintu seperti itu. Suatu kali, pas makan di warung yang pintunya ada tombolnya seperti itu dan pengunjungnya tidak ramai, saya mengabadikan jenis pintu tersebut. Dan beberapa sudah ada tulisan ‘Push’ -nya yang cukup besar. Alat ini wireless, jadinya tidak ada kabel yang mencuat darinya, membuatnya kelihatan lebih rapi, seperti hiasan tempel biasa saja.

warungnya sudah mau tutup, jadinya berani ceprat cepret😀

Untuk membukanya cukup di pencet saja tombol itu.

Gencetlah eh salah pencetlah daku

Apakah rekan-rekan juga pernah merasa katrok karena sesuatu hal ?

65 thoughts on “Katrok karena pintu

  1. hihihi jelas pernahlah, tapi apa yaaa … wes lali jeh

    unik juga pengalamanmu, tapi yaaa biasa to, karena baru kenal yo gpp😀
    orang lain juga maklum kali hehehe

  2. idem!
    kemaren waktu ke indonesian embassy, saya juga ga bisa geser pintu.. padahal udh curiga sama tombol depan mata, kayaknya harus ditekan deh cuma ragu-ragu.. trus pura2 benerin tas dan liat orang buka.. bwahahaha.. *maklum di kampung kan ga ada*

  3. Selalu ada yang pertama kali ya, seperti aneka kran air di wastafel ada yang putar, tekan, ungkit ataupun sensor, sempat katrok pula he he. Salam

  4. Hahahaha …
    Katrok itu populer jaman dulu … bahasa preman blok M tahun 80 an. Seangkatan dengan kata Bokap – Nyokap dan serentengannya …

    Mengenai pengalaman katro ?
    ouw tentu ada …
    salah satunya adalah … di hotel berbintang … memakai handuk … yang seharusnya untuk keset …

    Hahahha
    (bukan salah gua dong … soalnya di handuk itu nggak ada tulisan “Welcome” nya … jadi mana tau saya kalo sebetulnya handuk itu buat keset …)

    Jijay ya ?

    salam saya Hind

    • Terima kasih Infonya Om. Berarti kata ini sudah lama juga ya, saya ngeh nya pas Tukul sering ngucapin kata ini.
      Ha.ha.ha. pengalaman berharga ya Om … ga sampai gatal-gatal kan om …

      • Nggak tuh Hind … Nggak gatel …
        Malah … perasaan saya … “handuk” yang ini … rasanya lebih mantap di kulit saya … lebih kesat … lebih menyerap …

        hahahahhaa

    • Astaghfirulloh! Om Nh pernah makai keset untuk handukan? Oh, no! Jadi penasaran, sejak kapan dan siapa yang memberi tahu Om Nh kalau itu keset, bukan handuk.
      Saya sendiri hampir bisa dipastikan akan kebingungan menghadapi pintu ‘aneh’ semacam itu, Pak. Tapi beruntung, dengan membaca di sini mudah-mudahan saya nda berlaku katrok lagi. Cuman, kapan ya saya jalan-jalan ke tempt yang semacam ini? Hehehe…

      • @ Abi …
        Saya sadarnya … setelah melihat ukuran … dan ketebalannya … (kok ini beda ya ?)
        dan juga pas petugas room service datang dan menaruh “handuk keset” tersebut di tempat yang seharusnya … yaitu di lantai …

        qiqiqiqi

  5. Hehehe…pengalaman lucu Mas Hindry..Orang yang ada di dalam merasa kasihan kali yah ada yg plongok2 diluar gak bisa masuk…
    Kalau saya mengalami shock budaya untuk wastafel cuci tangan. Sekarang kalau di hotel bagus atau mall mewah kan cuma pakai sentuh atau gerakan tangan dibawahnya air muncrat sendiri. Pertama kali ketemu aku sampai puyeng nyari krannya mas..lah kok gak ada…Pencet2 juga gak ada tombolnya. Sampai gak sengaja saja ngegerakin tangan dekat kran..eh keluar hahaha..untung gak ada yg lihat jadi aku gak kelihatan katroknya..

  6. wah kalau soal pengalaman katro kayak gitu sudah sering banget.. mungkin masuk ke gedung gedung baru di jakarta saja bisa membuat kita terlihat oon..

    masuk lift pencet nomor dulu baru naik ke dalam liftnya. karena didalam liftnya tidak ada pencetan apa apa… hehehehe..

    • wah aku tahu lift seperti itu pas di Taipei … aneh2 aja ya desainnya. pernah juga aq mengalami, pas naik lift, didalamnya ada petugas yang mencetin tombol2. Sepertinya pengelolanya kelebihan uang, jd bisa gaji penunggu lift …

  7. saya merasa katrok pas baca tulisan ini mas, sambil liat2 gambar ini warung dimanaaa yaaa,,,,???warung kok keren pake pintu2 sgala, nah lho kok tulisannya kayak huruf kanji gitu,,lho ini dimana???di taiwan ngapainnn???
    #katrok kan saya

  8. pernah katrok soal pintu. mestinya pintu itu geser, tapi kudorong. buru-buru sih. haha. malu aku sama yg ada di dalam ruangan. sekarang tiap kali lihat pintu aku juga lihat dulu bagaimana petunjuknya. di sebuah penerbit ada yang buka pintu mesti pakai acara nyodorin kartu. pintu sekarang rumit-rumit ya hihihi

  9. waaaahhhh,, untung aku udah baca blog ini.. jadi kalau kejadian aku gak bakalan malu.. coz sampe sekarang gak pernah makan di tempat yang pintunya pake tombol😛

  10. wah, pintunya keren banget😀
    Semoga teknologi itu belum akan masuk ke Indonesia dalam waktu dekat ini ya… Soale bakalan banyak orang katro nih, termasuk diriku😀

  11. Pingback: THE NINE FROM THE GREY HORSES « The Ordinary Trainer writes …

  12. Pingback: Katrok Juga | Berbagi Kisahku

  13. untuk pintu, aku jg pernah bingung gimana cara bukanya.. dan itu adalah pintu salah satu departemen di FKG UI. Jadi, pintunya itu selalu dikunci dan br bs dibuka dgn scanning ID, untuk mahasiswa bs sih mencet bel utk dibukain, tapi deg2annya kan ttg ‘siapa dosen yang di dalem’, ‘ganggu apa nggak’, makanya di sana suka ada bbrp anak yang salting, yang mau masuk tapi segan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s