Kenangan akan lebaran

Momen lebaran sungguh merupakan waktu yang istimewa bagiku meskipun aku sendiri tidak merayakan kemenangan di hari itu. Hal ini tidak terlepas dari kebiasaan yang ada di keluarga besarku, yang bisa dibilang cukup beragam kepercayaannya. Kebiasaan ini mungkin mirip dengan kebiasaan di keluarga-keluarga lainnya, tetapi tetap saja terasa istimewa bagiku, terutama ketika aku masih kecil. Di malam takbir yang di hiasi suara bedug dan gema takbir dari masjid-masjid yang ada di sekitar rumah, teman-teman muslimku akan mengikuti arak-arakan, berselempang sarung sambil membawa obor serta bedug, sementara aku berdiri di pinggir jalan menjadi penonton. Dan setelah melihat arak-arakan lewat, aku akan ikut membantu orang tua menyiapkan perbekalan untuk mudik keesokan harinya atau duduk-duduk di beranda sambil mengobrol . Jika langit cerah, kami bisa menikmati bintang-bintang di langit sambil menikmati gema takbir, dan seringkali aku juga menikmati sebentuk perasaan yang sulit untuk kudeskripsikan.

Malam takbir akan membuatku susah tidur, karena membayangkan keesokan harinya akan bertemu dengan simbah (kakek-nenek), serta saudara-saudara dari ibu yang lainnya (saudara dari bapak tinggal dekat dengan kami, jadi cukup sering bertemu). Dan biasanya, bapak akan membangunkan kami di pagi-pagi buta, untuk bersiap-siap pergi ke rumah simbah. Kami memilih untuk berangkat pagi-pagi sebelum sholat Ied di mulai, sehingga jalanan tidak macet. Jika lancar, perjalanan ke rumah simbah hanya memakan waktu sekitar 1 jam, jadi tidak terlalu jauh juga.

Biasanya, ketika sampai, simbah putri (nenek) masih sibuk di dapur sementara simbah kakung (kakek) duduk di amben (balai-balai bambu). Sambil menunggu om, bu lik dan sepupuku pulang dari sholat Ied, bapak akan terlibat dalam pembicaraan dengan simbah kakung, ibuku turut sibuk di dapur, sementara aku sibuk menikmati hasil tegalan (ladang) yang ada di meja😀. Simbah yang beragama Hindu maupun aku yang Kristen, sama-sama senang jika lebaran tiba, karena itu berarti saudara-saudara yang tinggal berjauhan akan berkumpul. Ketika om, bu lik dan sepupuku pulang dari sholat Ied, kamipun saling mengucapkan ‘Sugeng Riyadi‘ (ungkapan lebaran yang umum diucapkan dalam masyarakat Jawa).  Beberapa tetangga dekat pun akan berdatangan juga untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.

Ketika matahari sudah semakin meninggi, simbah kakung akan memimpin ‘perjalanan khas lebaran’, yang selalu aku tunggu-tunggu. Pertama-tama, kami akan besik (mengunjungi makam leluhur). Besik merupakan kegiatan yang lazim dilakukan di daerah simbah menjelang lebaran atau saat lebaran (dan mungkin juga lazim di daerah-daerah lainnya). Biasanya simbah sudah bersih-bersih makam beberapa hari sebelum lebaran, jadi saat lebaran, kami tinggal menabur bunga saja. Pemakaman biasanya akan ramai dengan pemudik dari luar daerah, dan kadang-kadang kami bertemu orang yang ternyata masih kerabat jauh. Seringkali, simbah kakung akan sibuk menerangkan hubungan kekerabatan dengan orang yang namanya tertera di nisan-nisan itu (yang sesaat kemudian, kami juga sudah lupa lagi :D).

Selesai besik, kami lalu mengunjungi saudara-saudara lainnya. Perjalanan biasanya akan berakhir di rumah adiknya simbah, yang merupakan tabon (dulu rumah orang tua simbah kakung). Meskipun diantara saudara-saudara yang kami kunjungi ada juga yang tidak merayakan kemenangan karena ada yang Hindu, ada yang Katholik serta ada yang Kristen, tetapi kami berbagi kebahagiaan bersama di hari lebaran.

Tahun ini, meskipun saya lagi-lagi tidak bisa pulang saat lebaran, tetapi nuansa lebaran memang agak sedikit berbeda, karena ini adalah lebaran pertama tanpa sang pemimpin ‘perjalanan khas lebaran’. Simbah kakung memang telah berpulang beberapa bulan yang lalu (beruntung saya sempat pulang dan bertemu simbah beberapa minggu sebelum beliau tiada), diikuti pk de (yang tinggal di depan rumah simbah) 40 hari sesudahnya. Sementara simbah putri sudah berpulang beberapa tahun sebelumnya.  Kini, momen lebaran akan bertambah dengan memori orang-orang terkasih tersebut.

16 thoughts on “Kenangan akan lebaran

  1. ya,lebaran memang membawa kenangan di saat kecil. terutama di kampung. biasanya suasana semarak bahkan dari ramadan. keriaan itu akan mulai surut dan kembali normal setelah hari raya ketupat pada hari ke-7 lebaran. itu kalau di kampung saya ya…🙂

  2. Sekalipun tak merayakan secara khusus, saya perhatikan ternyata suasana idul fitri cukup banyak juga kesannya pada diri anak-anak non-muslim ya Mas..Pengalaman masa kecilnya saat lebaran sungguh indah..:)

  3. Menikmati suasana silaturahmi kebersamaannya, lebaran maupun natalan pul ngumpul di rumah sesepuh. Istilah ‘tabon’ nya baru ngeh, dialek mana mas … Sugeng mengenang lebaran di perantauan. salam

  4. kalau aku, sebetulnya kebersamaan/kumpul-kumpul saat lebaran sih oke. tapi, yang agak kurang kusukai adalah saat di perjalanan (menuju rumah simbah). capek banget. makanya aku nggak ke mana-mana saat lebaran. lebih suka bersantai di rumah saja hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s