Meja favorit

Lazimnya, yang menjadi rebutan itu kursi, berbagai strategi di pakai untuk mendapatkan jatah kursi maupun kursi yang empuk. Berhubung saya belum pernah rebutan kursi, maka saya tidak bisa menulis tentang kursi. Tetapi saya pernah ikut rebutan pasangannya kursi, yaitu meja. Peristiwanya sendiri merupakan bagian dari cerita jaman SMA. Jadi postingan kali ini masih terkait dengan Cerita Anak SMA๐Ÿ˜€

Di sekolah kami, siswa boleh berganti tempat duduk seminggu sekali, jadi setiap hari Senin, kami akan berusaha untuk berangkat lebih awal supaya dapat tempat duduk yang diinginkan. Dan pada saat itu, tempat duduk yang laris manis adalah di baris paling belakang๐Ÿ˜€ . Kalau yang paling di hindari tentu saja meja yang di depan meja guru persis (ga enak kan sepanjang hari harus konsentrasi penuh, ups… ).

Ruang kelas kami memiliki 2 pintu, di depan dan belakang. Meja favorit kami tentu saja meja paling belakang di dekat pintu, lebih ‘isis’. Isis bahasa Indonesianya apa ya? Bingung saya. ‘Isis’ bisa di bayangkan sebagai kondisi dimana ada angin sepoi-sepoi yang bikin ngantuk๐Ÿ˜€. Karena itu meja favorit, maka tidak setiap minggu kami bisa mendudukinya. Kami harus berangkat pagi-pagi sekali agar dapat duduk di meja itu.

Karena berangkat pagi-pagi sekali itu tidak nyaman, mulailah kami memikirkan cara untuk tetap dapat duduk di meja itu tanpa harus berangkat pagi-pagi. Saya, Acong, Gembok dan seorang teman lainnya mulai bersinergi. Seingat saya, awalnya Acong yang memulai meninggalkan beberapa bukunya dilaci meja pada hari Sabtu, supaya ketika hari Senin ada yang mau duduk disitu menyadari bahwa meja itu telah berpenghuni (ga tahu juga, Acong dapat ilham darimana).ย  Maka kami pun ikut-ikutan menaruh sesuatu di meja pada hari Sabtunya. Ada dua meja yang kami incar, meja yang paling dekat pintu belakang dan meja di depannya.

Strategi ini cukup berhasil. Namun, pernah pada suatu kali, barang yang di taruh oleh Gembok ternyata tidak ada di tempatnya pada hari Senin pagi. Untuk menghindari kejadian serupa terulang lagi, teman saya itu akhirnya menggembok tas yang di tinggalkannya. Itulah awal mulanya kami memanggil dia dengan sebutan Gembok.

Dengan strategi ini, kami bisa mempertahankan kedua meja itu dalam waktu yang lama.

Nah, apakah rekan-rekan juga mempunyai meja favorit saat di SMA?

46 thoughts on “Meja favorit

  1. wah wah bisa pindah2 kursi dulu?
    seru dong
    nek aku mesti di bangku yg sama
    gak boleh pindah2๐Ÿ˜€
    bukan aturan baku sebenere
    tapi temen2nya gak pada mau dipindah2 xixixi
    klo kita ngedudukin tempat yg kemarin dia duduk
    pasti ketika kita datang langsung deh ‘diusir’๐Ÿ˜€
    jadi gak ada istilah siapa duluan dia dapat.

    hebat tuh Gembok, bisa dipake buat ngegembok tas #eh? Hehehe

  2. Meja favorit saya pindah-pindah … ndak tentu Hind …

    Lho kok bisa ?

    iya … ini tergantung dari …
    disebelah mana “bunga kelas” duduk … (halah)
    jika yang bening-bening duduk di tengah … maka favorit kita ya dideket-deket situ. Jika yang kinclong duduk di depan … oouuuww tentu saja kita maunya juga di depan …

    hahaha

    salam saya Hind

  3. waktu sd aku selalu cari meja paling depan. terkontaminasi doktrin yang mengatakan anak pinter duduk di depan
    setelah smp setiap dua hari sekali harus pindah ke meja sebelah jadinya muter mulu
    payah di stm, duduk semaunya karena tiap ganti pelajaran harus pindah ruangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s