Saber – sahur bersama

Kriiiiiiiinnnnnggggg…

Dengan mata masih terpejam, Ditya mematikan jam weker yang terletak diatas meja, di samping ranjangnya. Matanya masih terasa berat. Dengan bersusah payah ia mengumpulkan kesadarannya, berusaha supaya tidak tertidur lagi. Ada sekitar 15 menit ia terus berbaring sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur.  Dinyalakannya si lappi yang ada di atas meja. Sambil menunggu booting, ia mengambil pecel lele yang telah dibelinya semalam, memasukkannya ke rice cooker, lalu duduk di depan komputer.

Segera setelah lappinya terhubung ke internet, dia meluncur ke tempat biasa. Ternyata sudah ada pesan disana.

“Mas, udah bangun belum …. ”
Ditya buru-buru membalasnya, “Baru bangun nih🙂 . Udah dari tadi ya?” Tak berapa lama, muncul pesan balasan.
“Belum sih. Ini masih menunggu maemnya panas dulu. Mas maem pakai apa?”
” Biasa, makanan favorit😉 . Ni lagi kupanasin di rice cooker ”
“Yaahhh, pecel lele lagi pecel lele lagi. Sekali-kali maem lainnya kek. Mana enak pecel lele di panasin pakai rice cooker. Mas ini ga pernah perhatian sama maemnya. “

Ditya hanya tersenyum membaca pesan balasan itu sambil membayangkan ekspresi wajah diseberang sana yang mengatakan hal itu, hmmm, menggemaskan. Memang adek yang satu ini agak cerewet soal makanan.

“Pecel lele enak juga kok. Apalagi sambalnya, mmmm mantab sekali hi.hi.hi.” Ditya mengetik sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi manyun orang yang diajak ngobrol.
“Awas jangan banyak-banyak makan sambal lho, ntar perutnya sakit.”

Ditya ingin ketawa, karena yang sering sakit setelah makan sambal ya si adek, bukan dirinya. Belum sempat Ditya mengirimkan balasan yang sedang di ketiknya, sebuah pesan baru telah masuk lagi.

“Hhhmmm, kapan ya aku bisa masakin buat mas …”

Kalimat itu membuat Ditya menghentikan aktivitas mengetiknya. Dia terus menatap pesan itu sambil menarik nafas dalam-dalam. Ada tanya, harapan sekaligus kepasrahan didalamnya. Angannya melayang jauh. Andai saja apa yang dikatakan si adek bisa benar-benar terwujud, alangkah bahagianya mereka. Ditya memejamkan matanya, mencoba menahan kegalauan yang tiba-tiba menghampirinya.

Ditya sendiri sungguh tak mengerti mengapa ia begitu terpikat pada gadis yang pernah satu kelas dengannya  sewaktu SMA ini. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana perasaan itu tiba-tiba muncul ketika dilihatnya si adek sedang latihan baris berbaris di sekolah. Ditya bingung ketika adek yang sering ia ledek dan jail-in tiba-tiba tampak begitu anggun dan manis diantara pasukan pengibar bendera itu. Ditya hanya bisa termenung dengan perasaan barunya itu. Dan rupa-rupanya, si adek merasakan keanehan itu, karena suatu hari, tanpa di duga oleh Ditya, si adek bertanya

“Kok kamu agak aneh akhir-akhir ini. Tidak seperti biasanya ?”

Dan Ditya yang tidak siap dengan pertanyaan itu pun belingsatan mencari jawaban untuk menyembunyikan diri. Ditya tahu bahwa si adek tidak puas dengan jawabannya waktu itu, meskipun tidak pula bertanya lebih lanjut.

Setelahnya, Ditya harus berjibaku untuk menahan perasaannya agar masih bisa bersikap sewajarnya didepan si adek, meskipun keinginan untuk terus bersama itu sangat sulit di sembunyikan. Seringnya bersama membuat Ditya semakin dekat dengan si adek dan pada akhirnya mereka menyadari perasaan masing-masing. Kebersamaan itu pun terus berlanjut hingga kini, saat keduanya terpisahkan oleh jarak dan juga tembok yang sangat tinggi.

Entah sudah berapa kali mereka disadarkan akan tembok yang tinggi itu dan mencoba untuk menjauh. Akan tetapi, setiap kali pula mereka selalu kembali.
“Kita memang bisa menentukan dengan siapa kita akan bersama, tetapi tak bisakah kita juga menentukan dengan siapa kita jatuh cinta? ” Begitu si adek pernah bilang, mungkin sebuah ungkapan frustasi, karena tak juga bisa menepiskan rasa itu. Dan Ditya pun hanya terdiam, karena dia sendiri tidak memiliki jawabannya.
“Dan aku ingin bersama orang yang aku cintai.” si adek menambahkan, sambil menundukkan kepala dengan lesu. Ditya yang tak bisa bicara hanya bisa mendekap si adek dengan erat. Sebutir air mata jatuh di pipi si adek.

Kedip-kedip di layar membuyarkan lamunan Ditya.  Sebuah pesan baru telah masuk.
“Mas, masih disitu kan? Ini aku kirim maem buat sahur ya ..:D ”
Gambar menu sahur berupa sup sayuran hijau, daging asap dan buah pun muncul di layar.
“Wah, nggaya sekali, mentang-mentang habis gajian … ”
“ha.ha.ha.”
Ditya pun segera mengambil pecel lelenya. Difotonya dengan HP, lalu dikirimnya.
“Nih, silahkan nikmati PECEL LELE …”
“Ogah ah, bentuknya ga menarik ha.ha.ha.”
Ditya pun tertawa dalam hati. Hanya di dalam dunia maya ini ia dan si adek bisa mewujudkan apa yang manjadi hasrat terpendam, membangun dunia yang mereka impikan, sabagaimana layaknya sepasang manusia. Ditya lalu memakan pecel lelenya dengan lahap, meskipun sebenarnya dia tidak ikut berpuasa, sambil saling berbalas pesan dengan si adek. Tak lama kemudian…
“Mas, aku sholat dulu ya. Sahurnya udah selesai nih.”
“OK.”
“Oya, mas kalau mau tidur lagi, bangunnya jangan kesiangannya lho, ntar nggak pergi ke gereja lagi seperti minggu kemarin.”
“Iya iya, tenang saja. Wekernya udah ku set kok :D”.

***

30 thoughts on “Saber – sahur bersama

  1. Ciieeee…ciiieee….ciieeee…..
    Salam buat si adek ya mas, mudah2an puasanya lancar gk ada yang bolong… uhuk…😉

    #”nggaya sekali” ki basa mana mas? Xixixi…

  2. Selamat ya mas anda menjadi salah satu pemenang Kuis Kedipan Rahasia
    Silahkan mengirim nama dan norek bank untuk pengiriman tali asih berupa uang bakso.
    Terima kasih
    Salam hangat dari Surabaya

  3. emang bentuk pecel lele kurang menarik ya?
    tapi saya sih, asal digoreng kering, terutama di bagian ekor, pasti disantap
    tambah pula sambalnya yang mantaf … wuiiii … bisa nambah lelenya hehehe

  4. Sepertinya sahur pecel lele juga enak kok, selama bulan ramadhan ini, udah 3x saya sahur pecel lele, apalagi kalo sambelnya puedes, maknyus deh

    salam kenal mas🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s