Seri si Bedjo : WM Murah KAGAMA

Djo-two duduk dengan gelisah. Beberapa kali pandangannya tertuju pada jam dinding yang terasa lambat berputar. pikirannya sudah tidak bisa fokus lagi pada materi yang di berikan di depan kelas. Deretan simbol integral membuatnya kepalanya serasa berputar-putar. Apalagi, pada dasarnya Djo-two merasa kesulitan dengan kuliah berbau termodinamika. Djo-two melihat ke kiri-kanan. Ternyata teman-teman yang lain pun juga kelihatan kepayahan. Sebagian menatap papan tulis dengan pandangan tak paham, sebagian lagi sibuk kipas-kipas. Siang itu memang sangat panas, sehingga suhu di dalam kelas yang tidak ber-AC pun terasa seperti dalam oven. Sementara Djo-wan yang di cari-cari tak kelihatan di dalam kelas.

Beberapa kali dosen di depan mencoba mencairkan suasana. Setiap kali kelas bergemuruh ketika sang dosen melancarkan lelucon-leluconnya. Terkadang, mereka tertawa karena tingkah sang dosen yang lucu, bukan karena leluconnya. Djo-two memegangi perutnya yang sedari tadi minta di perhatikan. Rasa lapar mulai menyiksa. Djo-two pun semakin gelisah, berharap kelas cepat selesai.

Kelas menjadi gaduh ketika sang dosen mengakhiri kelas. Aneh bin ajaib, kepala Djo-two yang sedari tadi berputar-putar pun menjadi segar kembali. Aliran darah pun mengalir dengan lancar di otaknya. Wajah-wajah ceria terlihat di wajah para mahasiswa yang meninggalkan kelas.

“Djo, mau kemana?” ki Ageng mencoba menyusul Djo-two yang melangkah tergesa-gesa.

“Mau makan siang istimewa, perut sudah tung-tung nih.”

“Dimana?”

“Di warung nasi kagama. murah meriah dan bergisi.. ha.ha.ha.” Djo-two menimpali….

“Aku ikut dah..” sahut ki Ageng.

“Heiii… mau ikut ke warung kagama ga?” tiba-tiba ki Ageng berteriak kearah anak-anak yang lain.

Tanpa di komando, mereka langsung bergabung. Dengan semangat 45, di tengah sinar matahari yang begitu terik, rombongan berjalan ke warung nasi murah kagama. Jarak jurusan dengan warung kagama yang terletak di dekat bundaran UGM cukup jauh jika di tempuh dengan jalan kaki, apalagi di bawah terik matahari. Tetapi warung makan dengan motto “Biar murah asal antri’ itu memang memiliki daya tarik tersendiri. Bagaimana tidak, hanya dengan uang Rp 500 dan ‘ucapan terima kasih’ yang baik, sudah mendapat sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya. Jika beruntung, maka akan mendapatkan lauk ayam atau daging. Tetapi setidak-tidaknya mendapat lauk telur. Setelah selesai makan, piring dan gelas harus dirapikan sendiri…

Warung makan murah kagama pada awalnya didirikan untuk membantu mahasiswa di tengah krisis ekonomi 1998. Warung makan ini menjual nasi murah untuk mahasiswa dan masyarakat kurang mampu sejak 30 April 1998. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata makan siang di warung makan murah kagama sudah menjadi semacam trend. Rasanya tidak lengkap menjadi mahasiswa UGM bila tidak pernah merasakan makan siang di warung makan murah kagama.

Djo-two dan rombongan pun menyusuri jalanan yang ditengah terik matahari dan di terpa asap bis kota yang hitam pekat untuk mencapai warung kagama. Ketika sampai disana, seperti biasa, antrian sudah mengular. Demi sepiring nasi murah, Djo-two dan rombongan pun mengantri dengan tertib. Sambil mengantri, Djo-two melihat beberapa kendaraan yang diparkir di sekitarnya. Tiba-tiba pandangan Djo tertuju pada sebuah sepeda motor warna hijau. Djo-two pun tersenyum….

Setelah membayar Rp 500 dan mengucapkan terima kasih dengan baik, Djo-two pun berhak mendapatkan sepiring nasi.  Dengan segera dia mencari-cari pemilik sepeda motor hijau tersebut. Di salah satu meja, dia melihat orang yang dicarinya. Dengan segera di hampirinya orang tersebut.

Demi melihat Djo-two menghampirinya, orang itu langsung menyeringai lebar… Dia melambaikan tangan.

“Kok tadi tidak masuk kelas?” tanya Djo-two. Yang ditanya cuma tertawa saja…

“Aku bangun kesiangan.”

“Dasar kamu ya… kalau masuk kelas aja pakai alasan kesiangan. Tapi kalau ke warung kagama paling awal. Mana motornya di parkir paling depan lagi…..”

Yang satu cuma nyengir saja…. lalu mereka berdua lalu tertawa…….

==========================================================

Menurut informasi, saat ini warung makan murah kagama sudah tidak ada lagi. Mungkin dengan semakin melambungnya uang kuliah, tak ada lagi mahasiswa elit (ekonomi sulit) yang berani kuliah di UGM😦 sehingga warung makan ini dirasa tidak sesuai lagi…

Terakhir main ke kampus, mahasiswanya klimis-klimis ga lusuh kayak jaman Bedjo dulu. sekarang nongkrongnya di kantin kampus sambil ber hotspot ria… ah… jaman memang telah berubah….😀

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s