Black blue day

Sehari ini rasanya sedih, susah konsentrasi, mellow, perasaan yang tidak menentu. Kalau temanku bilangnya  ‘black blue day’.  Singkat kata, untuk mengurangi perasaan mellow ini, bolehlah curhat disini …

Pagi ini, aku mendapat kabar yang kurang menggembirakan. Meskipun aku sudah berusaha mempersiapkan diri untuk mendapat kabar tersebut, tetapi, tetap saja hati ini rasanya sedih sekali ketika mendengarnya. Ah ya, kekhawatiran selama ini, hari ini akhirnya terjawab sudah, dan kekhawatiran itu benar-benar terjadi. Selalu saja peristiwa seperti ini akan meninggalkan sebentuk kesedihan.

Aku hanya bisa terdiam ketika kakak memberi kabar bahwa pagi ini, ketika kokok ayam jantan belum terdengar, ‘mbah kakung’ pergi untuk selama-lamanya. Rasanya ingin menangis. Semakin sedih lagi, karena tidak bisa pulang untuk menghadiri pemakamannya. Tetapi setidaknya dua minggu yang lalu ketika pulang, masih sempat bertemu beliau. Memang saat itu, kondisi simbah sudah semakin menurun. Setahun terakhir, sejak simbah terkena ‘stroke’, aku sebenarnya sudah merasakan kekhawatiran bahwa simbah akan pergi sebelum aku menyelesaikan sekolah. Simbah kadang menanyakan kenapa kok sekolahku nggak selesai-selesai. Simbahku memang tidak mengenyam pendidikan, jadi akupun bingung menjelaskannya. 😀

Teringat ketika aku masih kecil, setiap kali libur sekolah, menginap di tempat simbah adalah hal yang selalu dinanti-nanti. Pagi-pagi, simbah seringkali sudah ke ‘kebun’ (halaman) belakang rumah untuk mencari singkong atau ubi atau jagung lalu membakarnya. Jadi ketika aku bangun, seringkali sudah ada singkong atau ubi bakar. Siangnya, aku sering kali bermain di ladang, mencari belalang, mencari burung atau mencari rumput untuk kambing dan sapi (untuk yang disebut terakhir ini, aku seringkali tinggal membawanya saja). Kadang kalau simbah membajak ladangnya, kami cucu-cucunya mengikuti dari belakang untuk menangkap jangkrik yang keluar dari tanah-tanah kering yang sudah dibajak. Kalau pulang, simbah membuatkan ikatan-ikatan rumput untuk dibawa. Kamipun berlomba-lomba untuk menjadi yang tercepat sampai di rumah simbah. Rasanya senang sekali.

Sekarang semua itu tinggal kenangan. Selamat jalan simbahku yang polos dan lugu, yang sudah memberi kami banyak teladan tentang kehidupan, tetap bersuka didalam keterbatasan. Semoga lebih berbahagia di sana. Suatu saat, saya yang akan menyusul kesana …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s