Harmonisasi

Tulisan jadul, entah dari tahun berapa sudah lupa🙂

****

Bulan menampakkan ujudnya. Malam begitu cerah, tapi hatiku resah. Sabtu malam adalah waktu yang paling di tunggu orang-orang seusiaku, tapi bukan waktu yang menyenangkan buatku. Aku suka malam hari, tapi bukan malam minggu. Seandainya saja aku bisa, ingin kulompati saja malam ini. Malam yang sering kali menyiksa.

Dengan terburu-buru dan kesal, kuselesaikan makan malamku. Entah mengapa, aku tak tahan lagi melihat dua sejoli di meja seberang, melihat kedekatan mereka. Kalau saja ini bukan malam minggu, mereka tak akan ada disini dan membuat perasaanku berkecamuk. Ah, mengapa aku mesti jengkel, mereka tak melakukan kesalahan apa-apa, bahkan melihatku pun tidak. Tapi aku tetap tidak bisa meredakan perasaanku. Hal ini membuatku semakin kesal dengan diriku sendiri. Kuambil tas yang ada di sampingku dan kutinggalkan warung itu dengan setengah berlari. Dengan cepat kususuri jalur jalan di pinggiran daerah kost-kostan kemudian membelok ke jalan yang lebih sempit dan gelap.

Aku sedikit tenang ketika kesunyian jalan itu melingkupiku. Aku pun memperlambat jalanku. Aku begitu mengenal jalan yang sepi ini, jalur memutar dari kost ke kampus. Entah sudah berapa ratus kali jalan ini kulewati, dan setiap kali aku hanya berjumpa satu atau dua orang saja. Sunyi, begitu menyenangkannya engkau. Aku menengadah ke langit dan kulihat banyak bintang disana. Aku pun tersenyum. Alam memang luar biasa. Tak berapa lama aku pun tenggelam lagi dalam imajinasi-imajinasiku. Berbagai kemungkinan berkeliaran di benakku. Tiba-tiba kurasakan gairah yg begitu kuat untuk menangkap kelebatan ide-ide itu. Sederet teori segera bermunculan, mencoba menyelaraskan diri untuk menyusun harmoni yang indah. Harmoni-harmoni yang begitu misterius,yang selalu mengusik dan memenuhi otakku. Aku begitu bersemangat dengan kepingan-kepingan harmonisasi itu, begitu rumit untuk disatukan, tapi terlalu indah untuk diabaikan.

Kesunyian jalan itu mulai pudar ketika jarak ke kampus semakin dekat. Dengan terpaksa kusimpan dulu kepingan-kepingan harmoni itu, dan berharap mereka tidak akan menghilang. Kadang-kadang itu terjadi dan aku tak pernah bisa menemukannya kembali. Sungguh menjengkelkan jika hal itu terjadi.

Ketika memasuki area kampus, kulihat beberapa sepeda motor parkir di pinggir taman kampus dan aku tahu apa artinya. Seperti biasa, perasaan itu datang lagi. Kulihat beberapa orang duduk berpasangan di bangku taman menikmati indahnya malam, tanpa bisa menghilangkan rasa iri ini. Kemesraan mereka membuatku sedikit terluka. Kadang kala ingin sekali rasanya bisa seperti mereka. Aku pun hanya bisa menghela nafas panjang. Cepat-cepat ke berlalu, menghidari rasa luka yang lebih lagi.

Tak berapa lama, bangunan tua di ujung kampus pun terlihat. Lampu di dalamnya menyala terang, tetapi seperti biasa, tak banyak orang di dalamnya. Ah, siapa juga yang mau ke sini malam minggu begini. Kuseberangi lapangan rumput kecil di depan bangunan itu, menuju pintu masuknya. Pegawai yang bertugas di depan hanya melirikku sekilas lalu kembali lagi dengan komputernya. Di dalam gedung itu hanya ada beberapa pengunjung saja. Dengan segera aku menemukan diriku ketika deretan rak-rak penuh buku berjejer di depanku. Buku-buku tebal penuh debu yang memberiku asa untuk bermimpi menyusun kepingan-kepingan harmonisasi.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s