Lantern Festival

Hari ke limabelas bulan pertama di tahun China diperingati dengan festival lentera. Menurut teman saya, hari itu merupakan kesempatan kedua untuk berkumpul dengan keluarga (kesempatan pertama adalah pada saat tahun barunya). Untuk menyambut hari itu, di Taiwan diadakan festival lentera di beberapa tempat, salah satunya adalah di Pinxi.

Karena belum pernah melihat festival ini sebelumnya, saya dan teman-teman dengan penuh semangat berangkat ke Pinxi pada hari Sabtu yang lalu. Hari itu kami  di undang untuk mengikuti acara tahun baruan di Taipei, dan memainkan angklung disana. Jadi, sekalian saja hari itu kami jalan-jalan ke Pinxi.

Acara tahun barunya selesai sekitar pukul 3.00, lalu kami berangkat ke Pinxi. Ternyata tempatnya cukup jauh juga. Dari Taipei main station, kami menuju ke Taipei Zoo station,  menggunakan MRT. Disana ada shuttle bus yang membawa kami ke Pinxi. Ternyata, sesampainya di Taipei Zoo station, antrian pengunjung Pinxi sudah mengular. Mau tidak mau, kami harus ikutan mengangtri. Cukup lama juga kami berada di antrian meskipun antrian terbilang lancar, karena bus yang akan membawa pengunjung ke Pinxi tidak pernah putus.

Dari Taipei Zoo station ke Pinxi memakan waktu sekitar 1 jam. Karena kecapekan, saya tertidur di dalam bus. Ketika mau sampai Pinxi saya terbangun. Wah ternyata Pimxi itu daerah pegunungan. Kami sampai di Pinxi sekitar pukul 5.30an dan hari sudah mulai gelap (krn msh musim dingin). Disana banyak sekali orang yang datang baik sekedar melihat-lihat maupun ikut menerbangkan lentera.

Turun dari bus, kami berjalan ke atas, mengikuti jalur yang ada. di tepinya ada night market dan juga toko-toko yang menjual makanan maupun lentera. Mendekati tempat festival, jalanan sudah penuh dengan manusia. Kami mampir ke warung untuk membeli sebuah lentera lalau menulisinya dengan berbagai harapan. Saya sendiri kurang begitu tahu maknanya, tetapi katanya (kata siapa ya.. )  menerbangkan lentera itu mengibaratkan menaikkan harapan-harapan/ doa-doa kita supaya harapan kita terwujud di tahun ini.  Setelah itu, dengan susah payah kami berjalan diantara manusia untuk kmencari tempat yang pas untuk menerbangkan lentera.

Karena begitu penuh dengan manusia, rombongan kami sempat terpisah-pisah. Mana pada saat itu jaringan komunikasi error (mqn terlalu banyak yang melakukan panggilan karena terpisah dari rombongannya).  Setelah berhenti beberapa kali, rombongan saya melihat adanya mobil polisi. Jadilah kami janjian untuk ketemu di dekat mobil polisi itu, krn mudah di kenali (kami sempat beberapa kali berhasil terhubung dengan rombongan yang satunya).  Akhirnya kami pun berhasil berkumpul di dekat mobil polisi itu.

Masalah lain muncul ketika akan menyalakan api untuk menaikkan lentera. Tak ada satupun dari kami yang membawa korek api/ pematik. Untung pasa saat itu di dekat kami ada satu keluarga yang akan menerbangkan lentera, kami pun lalau meminjam pematik dari keluarga tersebut, sekaligus melihat cara mereka menerbangkan lentera. Sepertinya bapak yang menerbangkan lentera itu cukup berpengalaman. Setelah api dinyalakan, lentera tidak segera dilepas, tetapi di biarkan dulu biar udara di dalamnya menjadi panas. Setelah dirasa cukup, baru lentera itu di terbangkan. Dan benar saja, ketika di lepas, lentera mereka terbang dengan sangat cepat.

Akhirnya kamipun mengikuti cara bapak tadi dalam menerbangkan lentera. Setelah menyalakan api, kami biarkan udara di dalam lentera menjadi panas. Kami bahkan sempat foto-foto dulu. Setelah itu baru lenteranya di lepas. Lentera kamipun terbang dengan mulusnya.

Setelah menerbangkan lentera, kamipun lalu pulang. Ternyata, jalan menuju bus sudah sangat-sangat padat.  Sekitar 1 jam kami cuma bergerak sekitar 50 meter. Benar-benar tersiksa. Dan sekali lagi rombongan kami terpisah. Setelah sekitar 1 jam hampir tak bergerak, kami bisa bergerak lumayan, seperti jalan pelan. Akan tetapi, ketika mendekati tempat busnya, antriannya udah sangat-sangat panjang. Alhasil, kami harus mengantri hampir 2 jam untuk masuk ke dalam bus. Rasanya benar-benar rrrrggggghhhhhh ….

Tetapi kalau mengingat keindahan lentera-lentera yang di terbangkan, rasa capek itu sepertinya sebanding.

9 thoughts on “Lantern Festival

  1. Saya juga punya murid yg tinggal di Taiwan Mas…
    Beberapa kali saya suruh nulis rubrik di Blog saya.
    Kalau nggak salah dia jadi Juru Photo untuk sebuah majalah.
    Sering meliput even yg diadakan masyarakat Indonesia di Taiwan
    Salam untuk teman2 ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s