Belum berakhir

Cerita ini merupakan lanjutan dari cerita sebelumnya, Bintang. Selamat menikmati🙂

***

Seluruh tubuhnya terasa lemas sekali. Samar-samar, terdengar langkah orang, semakin lama terasa semakin dekat. Matanya masih terasa berat, tetapi tetap dibukanya pelan-pelan. Dia bisa melihat lampu di langit-langit ruangan. Sebuah alat bantu pernafasan menempel di hidungnya. Beberapa selang menancap di tubuhnya, menyisakan rasa sakit.  Dilihatnya seorang berpakaian putih sedang berdiri di sampingnya, memeriksa cairan yang menggantung di atas, yang tersambung dengan selang ke tubuhnya.

“Dia sudah sadar.” kata orang itu kepada rekannya, yang kemudian datang mendekat. Mereka kemudian tersenyum. Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya mendekatinya. Dengan penuh sayang, perempuan itu mengusap rambut di kepalanya, seperti yang selalu dilakukannya ketika ia masih kecil. Ia ingin bangun, tetapi kekuatan tubuhnya tak mengijinkannya.

“Jangan bangun dulu Ditya, beristirahatlah dulu.” kata perempuan itu dengan lembut. Matanya masih menatap lemah. Kemudian tak kuasa ia menahan untuk tidak terlelap lagi.

Entah berapa lama ia kemudian tertidur, Ditya tak tahu. Ketika ia membuka matanya kembali, orang berpakaian putih itu sudah tidak ada. Hanya perempuan itu yang tertidur di kursi disamping ranjang, sambil tangannya memegang tangan Ditya. Selang-selang itu masih menempel di tubuhnya. Aroma obat sangat kuat memasuki hidungnya.

Ditya mencoba mengingat-ingat kembali mengapa ia sampai di tempat ini. Ia teringat akan bintang-bintang itu, tentang kehampaan, tentang kesepian itu. Tiba-tiba, tangannya menegang dan wanita yang berada disampingnya itu terbangun.

“Ditya…”

“Mengapa aku sampai disini?” tanya nya dengan resah. Dia mencoba untuk bangun, tetapi masih terlalu lemah. “Seharusnya, semua ini sudah berakhir” pikirnya. “Tetapi, kenapa ia masih saja tersangkut di sini.”

“Ditya… tenang, Ditya. ” Perempuan itu mencoba menenangkannya.

“Orang-orang telah menyelamatkanmu. Kamu hampir saja terseret jauh ke tengah laut. Kamu sekarang aman disini, jangan takut lagi” kata perempuan itu seolah tahu apa yang sedang dirasakan oleh Ditya. Ditya menatap perempuan itu, perempuan yang telah dengan teramat sabar membesarkannya dan selalu berusaha mengerti kegelisahan hatinya. Ditya luluh oleh tatapan mata perempuan itu.

“Apakah bintang-bintang itu datang lagi?” Ditya hanya mengangguk lemah.

“Bintang-bintang itu, dari manakah asalnya ibu?” Tiba-tiba keheningan menyelimuti.

“Bintang-bintang itu diciptakan oleh sang pencipta .” sang ibu mencoba memberikan jawaban, sebuah jawaban sama, yang selalu diberikan kepada pertanyaan yang sama. Ditya hanya mendesah.

“Lalu, siapakah yang menciptakan sang pen..”

“Ssssttt… ” Dengan cepat perempuan itu memotong pertanyaan Ditya.

“Jangan kau tanyakan hal itu, tidak baik.” kata perempuan itu. Mereka berdua lalu tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Apakah ibu juga tidak tahu jawabannya.” Tanya Ditya memecah kesunyian. Perempuan itu terlihat kaget dengan pertanyaan Ditya. Tak pernah ia duga sebelumnya bahwa Ditya akan menanyakan hal itu. Mungkin, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk mencari tahu akan hal itu.

Bagi Ditya, sebenarnya sudah lama ia ingin menanyakan hal itu kepada ibunya, tetapi ia tak pernah memiliki keberanian. Ia takut hal itu akan melukai hati ibunya, akan membuat ibunya memiliki kegelisahan yang tak bisa dimengerti, seperti yang dirasakannya.

“Tidak semua hal bisa dipertanyakan. Mempertanyakan hal itu, hanya akan menambah keresahanmu. Untuk hal-hal itu, kamu hanya bisa menerimanya, tanpa perlu mempertanyakannya.” kata perempuan itu dengan gemetar.

Ditya bisa menangkap adanya keraguan dan mungkin juga ketakutan dalam jawaban ibunya. Ketika dilihatnya mata perempuan itu mulai berkaca-kaca, ia tidak bertanya lebih jauh lagi. Ia tidak ingin menambah beban perempuan itu. Mata Ditya menatap langit-langit ruangan, tetapi pikirannya pergi entah kemana. Ditya merasa begitu lelah dengan pertanyaan yang terus menghantuinya dan ia tak pernah tahu kapan akan berakhir. Dan jika memang berakhir, mungkin saja ia takkan pernah mendapatkan jawabannya.

Ditya mencoba memejamkan matanya. Tetapi, hayalan masa kecilnya itu datang lagi. Sebuah lubang gelap, yang menarik bintang-bintang kedalamnya. Ditya pun segera membuka matanya.

“Bintang itu datang lagi ibu.” kata Ditya dengan gemetar sambil memandang ibunya.

“Jangan takut Ditya, ibu ada disini.” Dibelainya kepala anaknya.

Ditya takut untuk memejamkan matanya, tetapi ia begitu lelah. Dan bayangan itu datang lagi. Ditya merasakan lubang gelap itu menarik dirinya. Ia mencoba untuk bertahan, melepaskan diri, tetapi merasa tak berdaya. Dengan sekuat tenaga ia meronta, ia berteriak-teriak dengan ketakutan yang sangat. Ibunya yang berada disampingnya mencoba menenangkannya, tetapi Ditya terus meronta, ia berusaha melepaskan selang-selang yang ada di tubuhnya, ia ingin lari.

Beberapa perawat segera datang, mereka memegangi Ditya dengan kuat-kuat. Lalu, salah seorang perawat itu menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya. Ditya lalu merasa sangat lemas, lemah dan terus melemah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s