Bintang

Malam begitu cerah berhiaskan ribuan bintang. Raditya melangkah pelan menyusuri bibir pantai. Sesekali air laut menyentuh telapak kakinya. Tiba-tiba dia merentangkan tangannya lebar-lebar, menikmati deru angin yang menyapu wajahnya. Malam ini, tak banyak orang yang mengunjungi pantai itu. Hanya terlihat beberapa pasang remaja yang sedang memadu kasih. Raditya terus melangkah di bibir pantai.

Setelah beberapa lama, Raditya berbaring di pasir sambil menikmati langit malam. Deburan ombak menjadi nyanyian pengiring malam. Ditya memejamkan mata, lalu ngambil nafas dalam-dalam. Tetapi resah itu tak juga mau pergi.

Dibukanya matanya dan dipandanginya bintang-bintang diatas sana.  Hayalan masa kecilnya muncul kembali. Kala itu, ia sering bertanya-tanya dari manakah asalnya bintang-bintang itu? Ia tak pernah bisa menjawabnya. Ia bertanya kepada ayahnya, kepada ibunya, kepada gurunya, kepada teman-temannya, kepada banyak orang yang dijumpainya. Ingin sekali rasanya Ditya menerima jawaban mereka, akan tetapi, hatinya terus memberontak dan menolak. Tanya itu pun tetap mengendap di dalam hatinya dan muncul sesuka hati. Dan setiap kali muncul, Ditya selalu merasa gelisah, kegelisahan yang tak pernah ia mengerti.

Ketika pertanyaan itu muncul, tiba-tiba saja langit malam tidak lagi menjadi sesuatu yang indah untuk dia nikmati. Ia melihat kegelapan diantara bintang-bintang itu, suatu kegelapan yang begitu dalam, kegelapan yang tak ia lihat ujungnya. Sering Ditya membayangkan menjadi bintang-bintang itu, tinggal diatas sana, diantara kegelapan malam dan tiba-tiba, ada perasaan sepi yang melingkupi. Sebuah kesendirian yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ah bintang, betapa menderitanya engkau, yang begitu indah menghiasi langit malam, tetapi tinggal dalam kesunyian.

Dan hayalannya pun akan berlanjut, sebuah hayalan dari masa kecil yang masih saja hinggap melekat hingga Raditya dewasa. Bagaimana seandainya semesta ini tidak ada, tidak ada bintang, tidak bulan, tidak ada bumi, tidak ada apa-apa … Bayangan kehampaan itu begitu merasuk jiwa, menyisakan gelap yang pekat… nothingness … Dan Raditya seolah di tarik oleh kegelapan itu, kegelapan yang siap menerkamnya bulat-bulat….Jika sudah seperti itu, Raditya sering berteriak sendiri, lalu buru-buru berlari ke pelukan ibunya. Dan belaian ibunya akan segera menenangkannya, memberinya rasa damai dan tanya itupun mengendap lagi, tetapi tak pernah benar-benar pergi.

Malam ini, seperti juga malam-malam yang telah lewat, tanya itu muncul lagi, dan kegelisahan yang tak ia mengerti datang kembali. Ia begitu tersiksa dengan kehampaan yang melanda, kesendirian yang begitu tiba-tiba. Ah… kehampaan, mengapa engkau menyiksa begitu banyak orang.  Orang dengan jiwa-jiwa yang sepi. Ah.. ya… sepi itu sendiri yang menjadi begitu menakutkan bagi banyak orang …

Ditya memejamkan matanya, tak ingin lagi ia melihat bintang-bintang diantara kegelapan itu. Tak ingin lagi ia larut dalam hayalan dari masa kecilnya. Ditya lalu bangkit dan berlari, berlari dan terus berlari sampai ombak menerima tubuhnya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s