Ladang kita

Tari menyusuri jalanan kecil berbatu yang mengarah ke puncak bukit. Di kiri-kanannya terlihat ladang-ladang yang kering. Pohon-pohon jati tumbuh sebagai penanda batas antar ladang. Siang itu begitu sunyi. Tak kelihatan seorangpun yang bekerja di ladang untuk sekedar mengumpulkan ranting-ranting kering sebagai kayu bakar. Hanya sesekali terdengar suara burung di kejauhan dan terlihat beberapa ekor belalang kayu yang terbang dari satu pohon ke pohon lainnya.

Berulang kali Tari mengusap butiran-butiran keringat di dahinya. Ingatannya kembali kepada masa kecilnya, ketika dia berulang kali melewati jalanan kecil berbatu tersebut. Terkadang  untuk mengirim makanan buat Ibunya yang sedari pagi sudah di ladang, atau membantu mengangkut hasil pertanian, atau berburu belalang kayu yang sangat enak rasanya. Jika beruntung, tangkapan belalang cukup banyak dan bisa untuk lauk selama beberapa hari.

Ketika sampai di puncak bukit, hembusan angin menerpa wajahnya dengan lembut. Deretan bukit-bukit gersang terlihat dari situ. Ladang-ladang dengan tanah yang kering dan pecah-pecah adalah pemandangan yang biasa di tengah-tengah musim kemarau. Tari menarik nafas dalam-dalam. Dia memandang sepetak tanah kering, dengan beberapa pohon jati di tanam disitu. Tanah yang dulunya menjadi tumpuan hidup keluarganya sebelum berpindah tangan ke pak Dukuh (kepala kampung). Waktu itu Tari sebenarnya tidak setuju jika petak tanah satu-satunya itu dijual. Tari mengetahui bagaimana Ibunya bekerja sangat keras untuk bisa menyekolahkannya sampai lulus sekolah menengah. Tari rela mengubur impiannya untuk sekolah lebih tinggi, daripada Ibunya kehilangan satu-satunya tanah garapan.

Tetapi bukan Ibu namanya jika ia menyerah pada keadaan. Satu-satunya keinginan Ibu adalah menyekolahkan Tari setinggi-tingginya. Setelah dewasa, baru Tari bisa mengerti keinginan Ibunya itu. Tari merasa sangat beruntung memiliki ibu sekaligus bapak yang demikian menyayangi dan memperhatikannya. Ya, ibu sekaligus bapak karena Tari tak pernah mengenal bapaknya yang telah meninggalkan Ibu dan dirinya untuk kawin dengan perempuan lain. Ibu juga yang selalu menghibur Tari kecil setiap kali ia menangis diejek teman-temannya oleh karena bapaknya itu.

Meski terasa berat, Ibu akhirnya menjual tanah itu kepada pak Dukuh dengan cara diangsur. Setiap kali Tari perlu uang sekolah, Ibu akan meminta uang ke pak Dukuh, yang akan diperhitungkan sebagai uang pembayaran tanah. Setelah menjual tanah satu-satunya, Ibu tetap mengerjakan ladang tersebut meskipun hanya sebagai penggarap saja, yang menyebabkan hasil panen harus di bagi dengan pak Dukuh. Kadang-kadang ibu mengerjakan ladang yang lainnya jika ada yang membutuhkan tenaganya.

Masa-masa kuliah di kota bukanlah masa-masa yang mudah. Dengan berbagai upaya, Tari berusaha mencari penghasilan sendiri untuk mencukupi kebutuhannya, baik dengan berburu beasiswa maupun bekerja paruh waktu. Ketika uang penjualan tanah telah habis dan kuliah belum selesai,  Tari pun harus bekerja lebih keras lagi. Ketika itu Tari sudah semakin mengerti dan semakin dewasa untuk menyikapi kesulitan hidup. Meskipun begitu, ada kalanya ia merasa sangat lelah dan putus asa. Akan tetapi, demi mengingat pengorbanan Ibunya, semangatnya bangkit kembali. Dan ketika pada akhirnya Tari lulus kuliah, Ibunya adalah orang yang paling berbahagia. Dan tak jarang Ibunya mengungkapkan kegembiraannya itu di depan orang-orang. Terkadang hal itu justru membuat Tari merasa risih. Akan tetapi ia tak bisa menyalahkan Ibunya yang memang telah mengorbankan segalanya untuk hal itu.

Tari lalu melayangkan pandangannya ke tanah luas di sebelah tanah petak yang ditanami beberapa pohon jati itu. Disana berjejer-jejer gundukan tanah yang tersusun rapi. Beberapa diantaranya sudah ditutup semen atau porselen. Tari melangkah diantara gundukan-gundukan tanah tersebut. Sudah cukup lama ia tidak berjalan diantara gundukan-gundukan tanah itu. Ada haru yang menyusup di hatinya. Dia berhenti di sebuah gundukan tanah yang telah ditutup porselen lalu jongkok di depannya. Lama ia menatap foto kusam yang tertempel disitu. Dengan lirih ia berkata…

“Ibu, beberapa hari yang lalu pak Dukuh menelepon. Dia ingin menjual ladang itu karena butuh uang. Ibu, sebentar lagi, ladang itu akan kembali menjadi milik kita lagi.”

Tak terasa bibirnya gemetar dan air matanya mulai menetes.

Selamat hari Ibu
Chung Li
22-12-11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s