Sri

Fajar kembali memperbaiki posisi duduknya. Keceriaan terpancar dari wajahnya  ketika kereta yang dinaikinya melewati stasiun Sentolo, yang berarti tak lama lagi akan memasuki kota Yogya. Dia membolak-balik koran yang ada di tangannya seperti orang yang gelisah. Berkali-kali ia memandang keluar, seperti memikirkan sesuatu, lalu sebuah senyum tipis mengembang di wajahnya. Hamparan sawah yang membentang di sepanjang jalur kereta memberikan kedamaian tersendiri buatnya. Ingatannya kembali kepada tahun-tahun yang telah lewat, ketika dia menghabiskan waktu beberapa tahun di Yogya. Ah, Yogya memang istimewa.

Entah mengapa, setiap kali berpikir tentang Yogya, yang pertama kali muncul adalah Sri, adik angkatan yang pendiam, yang justru dikenalnya ketika mengikuti kegiatan di luar kampus. Ketika itu Fajar ikut serta menjadi panitia pameran komputer, dimana Sri ikut terlibat didalamnya. Mereka menangani hal yang berbeda, sehingga interaksi mereka tidak begitu banyak dalam kegiatan itu. Hanya saja, setelah itu Fajar menyadari bahwa dia menjadi lebih sering melihat Sri di kampus. Dan entah mengapa, dia jadi lebih sering memperhatikannya.

Pernah suatu kali, ketika bermain di Parangtritis  bersama teman-teman kampus, Fajar menyempatkan untuk menyendiri. Ada perasaan yang menelusup di dalam relung hatinya setiap kali dia memandang Sri yang sedang bermain-main dengan air.  Fajar memandang ombak yang ada di kejauhan, yang menggelora seperti gejolak di dalam hatinya yang tak bisa ia pahami.

“Hayo, sedang mikirin siapa mas…” Fajar yang sedang asyik dengan dunianya sendiri menjadi salah tingkah disapa oleh  gadis yang sedang di pikirkannya.

“Eh.. nggak mikir siapa-siapa kok.” Dengan segala daya upaya, Fajar mencoba untuk menyembunyikan detak jantungnya yang tiba-tiba semakin cepat.

“Mas Fajar masih ingin berlama-lama di pantai nggak?” tanyanya lagi

“Mmm…  kenapa?”

Yang ditanya diam sejenak.

“Aku sore ini ada acara, jadi ingin pulang duluan. Kalau mas Fajar ga keberatan, kita pulang duluan yuk. Mmmm maksudnya, aku dianterin pulang gitu…he.he.he.” senyumnya pun mengembang. Fajar pun berpura-pura berpikir sejenak untuk menutupi kegirangan hatinya.

Dan sore itu, motor buntut Fajar menjadi saksi ketika untuk pertama kalinya Fajar bisa memboncengkan Sri. Ah, sungguh perasaan Fajar saat itu bercampur aduk. Jarak Parangtritis Yogya terasa begitu dekat. Ingin rasanya Fajar memutar dulu lewat Gunung Kidul.

Sejak saat itu, Fajar berusaha mencari-cari kesempatan untuk bisa berbicara dengan Sri. Pernah suatu kali, Fajar menghampiri Sri yang sedang duduk sendirian sambil membaca diktatnya. Dengan senyum yang lebar Fajar menyapa Sri. Akan tetapi, setelah duduk di sebelahnya, tak sepatah katapun yang mampu keluar dari mulut Fajar. Akhirnya, mereka hanya duduk saja tanpa berbicara. Beberapa kali mereka saling berpandangan, tetapi hanya senyum yang bisa tercipta. Rasanya benar-benar aneh.

Fajar tak habis pikir mengapa setiap kali di dekat Sri, mulutnya rasanya beku. Meski begitu, dia tak pernah bosan mencari kesempatan untuk bertemu Sri, meski lebih sering mereka kemudian duduk berdua dalam kebisuan. Saking getolnya, pernah Fajar mengambil mata kuliah yang bukan bidangnya hanya untuk bisa sekelas dengan Sri. Fajar sering tersenyum ketika mengingat kembali hal tersebut.

Fajar tak pernah berani mengungkapkan apa yang dirasakannya pada Sri. Suatu ketika, hati Fajar begitu hancur ketika diketahuinya bahwa Sri sudah menjalin hubungan dengan pria lain. Rasanya seperti kalah perang. Meski terasa galau, Fajar berusaha tidak menunjukkannnya pada Sri. Persahabatan mereka tetap berjalan meski Fajar memilih untuk mengambil jarak. Ketika selesai kuliah, Fajar memutuskan untuk bekerja di ibu kota. Sementara Sri bekerja di Yogya setelah lulus, dua tahun kemudian.

Sejak meninggalkan Yogya, komunikasi diantara mereka praktis  semakin berkurang. Hingga beberapa minggu yang lalu mereka berkomunikasi lagi, setelah sekian lama …

Tiba-tiba lamunan Fajar berhenti ketika suara-suara penjual bakpia memenuhi gerbong tempatnya berada. Dengan segera, Fajar menenteng bawaannya kemudian turun dari kereta. Dia berjalan perlahan sambil matanya menyapu kerumunan orang di stasiun.

‘Mas Fajar…” tiba-tiba seseorang memanggil Fajar dari belakang.

Fajar masih ingat betul suara itu, nadanya masih sama. Dengan segera Fajar membalikkan badannya. Senyum kebahagiaan mengembang di wajahnya. Tiba-tiba saja mulutnya menjadi beku. Hanya satu kata yang bisa diucapnya dengan lirih…

“Sri…”

17112011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s