Pil pahit yang menyembuhkan

Mmmm… rasanya kita sudah sering mendengar kata ‘memaafkan’. Apalagi kalau pas lebaran, kita akan saling bermaaf-maafan. Tetapi, benarkah memaafkan itu mudah? Sepertinya kita perlu berpikir untuk menjawab pertanyaan ini. Ketika orang lain melakukan kesalahan yang bisa dibilang ‘kecil’, saya rasa kita bisa dengan mudahnya memaafkan. Bisa jadi hal ini karena kita tidak merasa tersakiti dengan kesalahan orang lain tersebut. Akan tetapi lain halnya jika kita pernah merasakan benar-benar tersakiti oleh orang lain, maka kita akan menyadari bahwa memaafkan menjadi hal yang sulit.

Ada banyak kasus yang mencerminkan bahwa memaafkan itu tidak mudah. Kita bisa dengan cepat mencari berita di media massa tentang kasus penganiayaan dan kekerasan yang disebabkan karena sakit hati. Karena sakit hati, orang bisa menjadi depresi, mendendam bahkan menyakiti orang lain.

(gambar diambil dari sini)

Memaafkan memang bukan hal mudah, akan tetapi, ini adalah pil yang harus ditelan jika kita ingin disembuhkan. Ketika saya membaca sebuah quote “Forgiveness isn’t for the other person, it’s for yourself” saya tiba-tiba tersentak. Benar juga ya… seringkali kita sulit memaafkan karena kita menganggap memaafkan itu sama dengan melupakan atau membiarkan orang lain untuk menyakiti kita lagi. Kita mungkin takut memaafkan karena menganggap dengan memaafkan maka kita mengijinkan kejadian yang sama terulang kembali. Well,  tidak ada yang bisa menjamin bahwa kejadian yang sama tidak terulang, tetapi setidaknya kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut supaya tidak terulang dikemudian hari. Takut memaafkan akan membuat kita tetap menyimpan kemarahan, kebencian dan sakit hati yang tentu saja akan memberikan efek negatif pada diri kita sendiri, baik psikis maupun fisik.

Memaafkan berarti kita tidak lagi menjadikan kata-kata atau tindakan orang lain sebagai sesuatu yang membuat diri kita marah, atau benci atau sakit hati. Dan ini kadang tidak ada kaitannya dengan apakah orang yang kita maafkan itu tahu dan mengerti bahwa kita sudah memaafkan.Yang lebih ditekankan disini adalah kita tidak lagi merasa sakit hati, marah atau dendam.

Bagi mereka yang pernah sakit hati, tentu tahu bagaimana akibatnya ketika rasa sakit itu masih disimpan bukan. Tidur menjadi tidak nyenyak, makan pun tak enak. Kerjaan bisa-bisa juga menjadi terganggu. Saya punya teman yang jatuh dari sepeda motor gara-gara kurang konsentrasi akibat masih menyimpan sakit hati karena perkataan orang lain. Dan akibatnya, dia sendiri yang rugi; udah merasakan sakit, keluar duit lagi; sementara orang yang menyakitinya tenang-tenang saja.

Ketika kita tidak bisa memaafkan, siapa yang sebenarnya paling dirugikan ? diri kita sendiri bukan … Jadi mari belajar memaafkan. Memang memaafkan mudah untuk dibicarakan tetapi sulit untuk dilakukan … Kalau ada yang bisa bilang memaafkan itu mudah, mungkin dia belum pernah ‘benar-benar disakiti’ :P   he.he.he.. Akan tetapi, meskipun sulit, memaafkan sangat penting untuk ‘menyembuhkan’ diri kita …

(gambar diambil dari sini)

Jika ingin sakit hati kita sembuh, mau tidak mau, kita harus memaafkan, tidak ada pilihan lain. Sekali lagi, memaafkan adalah pil pahit untuk ditelan, tetapi ini yang menyembuhkan …

4 thoughts on “Pil pahit yang menyembuhkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s