Seri si Bedjo : Angkringan

Suatu ketika, the Bedjo sedang nongkrong di sebuah angkringan, di dekat wisma Bedjo. Sambil menikmati secangkir susu jahe yang masih panas, mereka mendiskusikan salah satu tugas kuliah, bagaimana memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan ekonomi skala kecil.

“Ada ide lain untuk tugas kita?” kata Bedjo 5 sambil memasukkan pisang goring ke mulutnya.
“Mmmm… apa ya.” Guman Djo-wan.
“Aku terpikirnya sih buat aplikasi e-business gitu.” Kata Djo-tri.
“Kalau itu kayaknya udah banyak sih. Coba kita mikir lagi, kalau bisa yang unik.”
“Eh, aku ada ide nih. Yogya kan termasuk kota pariwisata, bagaimana kalau kita membuat aplikasi yang bertujuan untuk mempopulerkan Yogya. Tapi informasi spesifiknya apa ya? Kalau tempat wisata, sudah ada beberapa yang buat sih…” kata Djo-wan

The Bedjo sepertinya tertarik dengan ide dasar Djo-wan. Mereka pun berpikir untuk menentukan informasi apa yang kira-kira unik.

“Aha… di Yogya kan banyak warung angkringan, yang tidak banyak terdapat di kota-kota lain. Bagaimana kalau kita membuat system informasi tempat angkringan di seluruh Yogya? Nanti bisa dibagi berdasarkan wilayah… Kita juga bisa membuat sedikit ulasan tentang beberapa angkringan.” Ujar Djo-four.

“Idenya bagus juga tuh… karena pada dasarnya angkringan kan sejenis café asli Indonesia. Cuma karena pengelolaannya kurang bagus, jadi kesannya tidak sebagus café. Kalau dikelola dengan baik, sebenarnya angkringan pun bisa menjadi bisnis yang menjanjikan lho.” Kata Djo-two.

“Wah betul juga ya. Aku membayangkan menu-menu angkringan kayak the jahe, susu jahe, kopi, nasi liwet dengan sambal dan ikannya, gorengan disajikan kayak di café-café. Keren juga lho. Tapi tentu saja kualitas makanan dan penyajiannya harus di perbaiki. ” kata Djo-wan.

The Bedjo pun bersemangat dengan ide baru mereka. Lalu mereka membuat rencana kerja. Pertama-tama, mereka ingin mengetahui seberapa sulit ide mereka bisa di realisasikan. Salah satu faktor yang paling menentukan dari sistem informasi tentu saja keakuratan data itu sendiri. Karena itu, mereka memutuskan untuk mengambil sampel data terlebih dahulu. Mereka pun lalu membagi-bagi area yang akan di survey dan menentukan siapa yang akan melakukan survey.

Dalam waktu beberapa hari, the Bedjo berhasil mengumpulkan banyak lokasi angkringan. Sebulan kemudian mereka melakukan ‘cross check‘ , apakah lokasi angkringan sudah terdata masih bertahan. Ketika di cek ulang, mereka mendapati banyak sekali lokasi angkringan yang berubah, ada yang tutup banyak pula lokasi angkringan baru.

“Wah, sepertinya ide kita tidak bisa dilanjutkan nih. Data-data yang ada sulit sekali di verifikasi karena perbahannya terlalu cepat. Jadi, tidak mungkin kita bisa memberikan data yang tepat dalam jangka waktu lama.” Kata Djo-two sedih.

Setelah berdiskusi dengan memperhatikan banyak hal, dengan terpaksa ide tersebut dihentikan. Tetapi the Bedjo tetap berharap, suatu ketika, ada angkringan yang dikelola dengan baik sehingga bisa menaikkan kasta angkringan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s