Pertemuan hati

Aku datang lebih awal. Pesawat yang akan membawaku pulang baru akan terbang beberapa jam lagi. Tapi itu tak masalah buatku, hatiku sedang ceria, tugas sebulan di Jakarta telah kuselesaikan. Suasana bandara petang ini cukup ramai. Setelah segala urusan di counter check in selesai, aku berjalan santai menuju tempat boarding. Aku lebih suka menunggu di dalam bandara dari pada diluar.

Tiba-tiba perutku minta perhatian, rasa lapar mulai menyerang. Beruntung di dalam bandara ada beberapa restoran. Akupun mencari-cari tempat makan yang tidak terlalu ramai.  Mungkin karena sudah waktunya makan malam, maka banyak restoran yang ramai oleh pengunjung. Aku sempat berjalan beberapa saat sebelum menemukan tempat makan yang tidak terlalu ramai.

Setelah memesan makan, aku mulai melayangkan pandangan untuk mencari meja kosong. Beberapa meja tampak kosong. Mataku terhenti pada seorang wanita yang sedang makan sendirian di sudut ruangan. Kuamati sebentar, ah, bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya. Lalu aku segera menghampirinya.

“Bolehkah saya duduk disini…” tanyaku. Dia lalu mendongakkan kepalanya.

“Ditya….” wajahnya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan pertemuan yang tidak disengaja ini. Senyumnya melebar. Tiba-tiba aku menjadi bingung sesaat, tidak tahu mesti bagaimana. Waktu berjalan cepat sekali, mungkin sudah empat atau lima tahun aku tidak berjumpa dengannya.

“Bagaimana kabarmu. Sudah lama sekali kita tak jumpa….” lanjutnya sambil mempersilahkan aku duduk. Akupun mengambil tempat duduk di hadapannya. Segera kami terlibat dalam pembicaraan, bercerita tentang pekerjaan kami masing-masing dan tentu saja waktu yang telah lalu.

Ingatanku kembali ke saat-saat kami sering bersama. Aku kenal Cathy karena kami pernah terlibat dalam sebuah kegiatan, pada masa kuliah dulu.  Awalnya aku sering ke tempat kostnya karena mengurusi kegiatan tersebut. Namun setelah kegiatan itu selesai, aku masih sering ke kostnya. Kami sering melewatkan waktu bersama untuk sekedar ngobrol atau jalan-jalan bersama.

“Kamu masih memakai jam itu.” tanyanya ketika melihat jam yang aku pakai.

“Iya, jam ini sangat istimewa. Dari orang yang sangat special.” jawabku sambil tersenyum. Aku melihat mukanya sedikit merona. Jam ini memang pemberian Cathy dan aku senang memakainya meskipun sekarang kelihatan agak buntut. Jam ini menjadi obat penghibur disaat-saat ingatanku melayang kepadanya. Entah kenapa kami jadi terdiam. Aku hanya mempermainkan makanan yang ada di depanku sambil sesekali kulirik Cathy. Ternyata dia melakukan hal yang sama. Beberapa kali pandangan kami bertemu. Rasa itu mencuat kembali. Rasa yang berusaha kuhilangkan, meskipun sia-sia saja. Pertemuan ini membuatku seperti menemukan kembali sesuatu yang hilang dari jiwaku. Kami terdiam cukup lama.

“Aku sering memikirkanmu.” kataku bergetar karena gugup. Keinginan untuk jujur membuatku berusaha mengatasi kegugupan ini. Dia menatapku. Pandangan kami bertemu cukup lama dalam kehampaan kata-kata.

“Aku menginginkan kembali saat-saat kita bersama dulu.” lanjutku. Dia hanya tersenyum.

“Ahhh, masa itu. Kita tak pernah sampai pada …. ” dia menghentikan perkataanya, lalu menerawang.

“…. tapi itu membekas.” lanjutnya sambil menundukkan kepala. Aku tak bisa menebak apa yang dipikirkannya.

“Itu sungguh berarti bagiku.” aku menimpali.

“Kenapa ya kita dulu tak pernah bertanya tentang perasaan kita masing-masing?” tanyanya tanpa meminta dijawab.

Aku hanya terdiam. Ah, andai saja saat itu aku punya sedikit keberanian untuk mengutarakannya, mungkin ceritanya akan lain.

“Aku kadang bertanya-tanya apa yang membuat kita menjadi jauh.” lanjutnya.

Aku semakin terdiam. Aku hanya bisa menelusuri sang waktu. Aku mulai kehilangan kontak dengan Cathy ketika aku mendapatkan pekerjaan di luar kota, yang cukup jauh dari tempat kuliahku. Karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan baruku, komunikasi kami menjadi sangat berkurang hingga akhirnya terputus. Aku tak tahu kemana dia pergi setelah lulus kuliah. Aku tak bisa lagi menghubunginya, begitu juga sebaliknya. Saat itulah aku baru menyadari akan arti kehilangan.

“Bisakah aku memperbaikinya? Bisakah kebersamaan kita dulu tidak hanya sekilas, lalu menghilang?” tanyaku penuh harap. Dia hanya terdiam. Kami berdua lalu tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Tiba-tiba informasi tentang penerbangan Cathy membuyarkan kesunyian kami. Dia bergegas merapikan barangnya lalu berpamitan. Aku hanya bisa memandangi Cathy yang melangkah pergi. Setelah dia menghilang dari pandangan, kuamat-amati kartu nama yang tadi sempat diberikan oleh Cathy,  lalu kusimpan dengan hati-hati.

Dengan enggan aku berdiri, lalu meninggalkan tempat pertemuan kami tadi …..

12 Maret 2011

2 thoughts on “Pertemuan hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s