Belajar menari demi Indonesia

Saya baru merasakan betapa bermanfaatnya memiliki suatu keahlian yang terkait dengan budaya sendiri justru ketika belajar di negeri orang. Salah satu keahlian yang sering di butuhkan adalah menari. Saat tinggal di negeri orang, seringkali kita akan mendapatkan undangan kegiatan seni dari universitas ataupun pemerintah daerah setempat. Kesempatan itu bisa kita manfaatkan untuk mengenalkan kesenian tradisional Indonesia, sekaligus sebagai salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan Indonesia. Jujur saja, banyak diantara kami (termasuk saya tentunya :) ) yang tidak tahu banyak tentang kesenian tradisional Indonesia. Dengan adanya undangan-undangan seperti itu, kami justru belajar banyak tentang kesenian Indonesia.

Berusaha memadukan beberapa tarian tradisional dalam sebuah cerita

Beberapa waktu yang lalu kami mendapatkan undangan dari pihak Universitas tempat kami belajar untuk menampilkan salah satu kesenian tradisional Indonesia. Dan kami pun  memutuskan untuk menampilkan tari-tari tradisional Indonesia. Karena tidak ada satupun yang pernah belajar menari, kamipun mencari-cari tarian yang bisa kami pelajari dalam waktu singkat di Youtube (beruntunglah kami hidup di era informasi :) ). Dan tarian tor-tor merupakan salah satu yang kami pilih.

Tari Tor-Tor merupakan tarian tradisional suku Batak di Sumatera Utara, khususnya Mandailing. Tari Tor-Tor dulunya merupakan tarian pemanggilan roh untuk menghormati leluhur dan dilakukan dalam acara-acara ritual. Tari ini sudah ada sejak 500 tahun yang lalu (1). Gerakan khas tarian ini berupa gerakan kaki jinjit-jinjit dan gerakan tangan. Menurut Togarma Naibaho, kata Tor-Tor ini berasal dari suara entakan kaki para penarinya di atas papan rumah adat Batak (2) .

Dalam pementasannya, tari Tor-tor diiringi oleh alat-alat musik tradisional  seperti gondang, suling serta terompet. Gondang sendiri memiliki beberapa makna. Secara sempit, Gondang bisa diartikan sebagai merupakan seperangkat alat musik tabuh, sejenis ‘kendang’ di Jawa. Tetapi dalam arti yang lebih luas, Gondang merupakan salah satu jenis musik Batak, yang terdiri dari seperangkat alat musik seperti, salah satunya adalah  ‘kendang’ (3).

Tari Tor-Tor itu sendiri ternyata memiliki banyak jenis. Setidaknya ada 3 jenis Tor-tor (4):

1. Tor-tor Pangurason : tari ini sering disebut tari pembersihan dan digelar pada saat pesta besar. Mengapa disebut tari pembersihan? Mungkin karena sebelum pesta dimulai, lokasi pesta harus di bersihkan dahulu untuk menjauhkan hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Tor-tor Sipitu Cawan : Sipitu Cawan berarti tujuh cawan. Tari ini menceritakan tentang 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di pucak gunung (pusuk buhit) bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung). Pusuk buhit (gunung) sendiri memiliki arti penting dalam kebudayaan Batak, karena dalam mitologinya, Pusuk Buhit menjadi tempat asal mula manusia (5).

3. Tor-tor Tunggal Panaluan : Tari ini sering dipakai untuk mengusir musibah atau bencana. Tari ini di tarikan oleh para dukun.

Tari Tor-tor ini juga memiliki beberapa makna, antara lain penyemangat jiwa, makanan jiwa serta sarana hiburan (2). Transformasi makna ini tak lepas dari perkembangan tari Tot-tor itu sendiri. Jika dulunya tari ini hanya ada di ritual-ritual, sekarang ini tari Tor-tor juga di tampilkan pada pada acara-acara yang lainnya seperti pernikahan, pengukuhan raja,  penyambutan tamu, pesta-pesta adat maupun acara-acara kesenian lainnya.

Mahasiswa Indonesia menarikan tarian Tor-tor di CYCU

Ketika mempelajari sebuah tarian, kita memang akan merasa lebih menyatu dengan tarinya jika kita tahu makna di balik tarian itu. Seperti tari Tor-tor, ketika di gali lebih dalam, ternyat ada banyak pelajaran yang bisa didapat di dalamnya. Dengan segala keterbatasan kemampuan, kami berusaha mempelajari tari Tor-Tor. Memang tidak bisa sebaik penari sungguhan, tetapi setidaknya kami sudah berusaha :) .

Demi Indonesia, kami pun belajar menari. Tapi memang benar lho, kalau dihadapkan pada situasi seperti ini, rasa nasionalisme ini jadi lebih tinggi. Dan saya yakin, mahasiswa Indonesia di tempat-tempat lain pun mengalami dan merasakan hal yang sama. Mari kita lestarikan budaya Indonesia dimanapun kita berada.

Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus bertajuk Lestarikan Budaya Indonesia.

Referensi

1. Ananda P, Ali F, Prihandoko, Soetana HM, SNL, “Malaysia Klaim Tari Tortor, Indonesia Harus Tegas “, Tempo.co, 18 Juni 2012.

2. Zika Zakiya,  “Mengupas Sejarah dan Makna Tari Tor-tor“, National geographic, 19 Juni 2012.

3. Patar Nababan, “Gondang Batak Punah ??”

4. Mutya Hanifah , “Serba-Serbi Tari Tor-tor”, Travel Okezone, 19 Juni 2012

5. Janpiasar Tardas Gurning , “Mitologi Asal Usul Manusia dalam Kepercayaan Batak “,  15 Maret 2010.

8 thoughts on “Belajar menari demi Indonesia

  1. pelestarian budaya asli indonesia memang kurang mendapat perhatian, dulu jaman sekolah SD, di tempat saya ada pelajaran tari, tari khas daerah namanya tari ndolalak. budaya2 semacam ini harus ditingkatkan, supaya tidak “kecolongan” lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s